Dihantam Kebijakan Keras Beijing, Harta 3 Pengusaha Properti Papan Atas China Raib Rp428,6 T
Rabu, 02 Februari 2022 - 10:24 WIB
Miliarder Hui Ka Yan menanggung beban dari kebijakan tersebut. China Evergrande Group meminta kreditor lepas pantai agar lebih bersabar dengan tidak mengambil "tindakan hukum agresif" ketika perusahaan merumuskan rencana restrukturisasi.
Evergrande, yang pernah menjadi pengembang terbesar di China, telah terjebak dalam krisis likuiditas setelah China menetapkan batas pinjaman dan mengeluarkan kebijakan "tiga garis merah" pada Agustus 2020.
Hui telah kehilangan 80% dari kekayaannya yang pada tahun 2017 tercatat mencapai lebih dari USD42,5 miliar. Kini Ia sedang berjuang untuk membayar lebih dari USD300 miliar dalam bentuk kewajiban kepada kreditur.
Didorong oleh keyakinan bahwa harga perumahan akan terus naik, dan pendapatan bakal meningkat, Evergrande meminjam dari karyawannya, investor ritel, serta berbagai lembaga keuangan termasuk bank dan perusahaan untuk memperoleh tanah dan membangun apartemen.
Tetapi setelah dana mengering dan harga rumah jatuh, model bisnia seperti yang diterapkan Evergrande berubah menjadi bangkrut.
Seluruh pasar telah melihat parade default tidak hanya Evergrande, tetapi Kaisa Group, Shimao Group, China Aoyuan Group dan Guangzhou R &F Properties, melakukan aksi jual dalam obligasi dan saham. Lalu meluas ke sektor terkait seperti Country Garden dan Longfor Properties.
Pekan lalu kegelisahan pasar menyebar ke saham Country Garden yang terdaftar di bursa Hong Kong. Dimana Ia anjlok sebanyak 8,1% hanya dalam satu hari karena kekhawatiran bahwa perusahaan telah gagal memenangkan dukungan yang cukup dari investor untuk kemungkinan kesepakatan obligasi konversi.
Baca Juga: 25 Miliarder Paling Dermawan di Amerika, Sumbangannya sampai Rp2.421 Triliun
Krisis kepercayaan menyebabkan Chairman Country Garden Yang Huiyan, wanita terkaya di China, melihat kekayaannya turun lebih dari USD1 miliar hanya dalam satu hari. Meskipun kepanikan surut pada hari berikutnya dan saham pulih untuk menutup kerugian.
Evergrande, yang pernah menjadi pengembang terbesar di China, telah terjebak dalam krisis likuiditas setelah China menetapkan batas pinjaman dan mengeluarkan kebijakan "tiga garis merah" pada Agustus 2020.
Hui telah kehilangan 80% dari kekayaannya yang pada tahun 2017 tercatat mencapai lebih dari USD42,5 miliar. Kini Ia sedang berjuang untuk membayar lebih dari USD300 miliar dalam bentuk kewajiban kepada kreditur.
Didorong oleh keyakinan bahwa harga perumahan akan terus naik, dan pendapatan bakal meningkat, Evergrande meminjam dari karyawannya, investor ritel, serta berbagai lembaga keuangan termasuk bank dan perusahaan untuk memperoleh tanah dan membangun apartemen.
Tetapi setelah dana mengering dan harga rumah jatuh, model bisnia seperti yang diterapkan Evergrande berubah menjadi bangkrut.
Seluruh pasar telah melihat parade default tidak hanya Evergrande, tetapi Kaisa Group, Shimao Group, China Aoyuan Group dan Guangzhou R &F Properties, melakukan aksi jual dalam obligasi dan saham. Lalu meluas ke sektor terkait seperti Country Garden dan Longfor Properties.
Pekan lalu kegelisahan pasar menyebar ke saham Country Garden yang terdaftar di bursa Hong Kong. Dimana Ia anjlok sebanyak 8,1% hanya dalam satu hari karena kekhawatiran bahwa perusahaan telah gagal memenangkan dukungan yang cukup dari investor untuk kemungkinan kesepakatan obligasi konversi.
Baca Juga: 25 Miliarder Paling Dermawan di Amerika, Sumbangannya sampai Rp2.421 Triliun
Krisis kepercayaan menyebabkan Chairman Country Garden Yang Huiyan, wanita terkaya di China, melihat kekayaannya turun lebih dari USD1 miliar hanya dalam satu hari. Meskipun kepanikan surut pada hari berikutnya dan saham pulih untuk menutup kerugian.
Lihat Juga :