Perang Rusia Ukraina Telah Berubah Menjadi Bencana Ekonomi Bagi India
Jum'at, 25 Maret 2022 - 06:38 WIB
Sebut saja Azerbaijan, Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, Moldova, Tajikistan, Turkmenistan hingga Uzbekistan. Lalu ekspor India senilai lebih dari USD500 juta menghadapi ketidakpastian sebagai akibat dari penarikan perlindungan jaminan kredit pada barang-barang yang menuju wilayah tersebut.
Dalam hal impor, ada beberapa komoditas yang sebagian besar jadi kebutuhan utama India dari kedua negara (Ukraina Rusia) ini, di antaranya amonia, UAN dan amonium nitrat yang digunakan dalam pupuk; neon, paladium, dan platinum yang digunakan untuk membuat microchip yang penting buat produksi mobil.
Lalu nikel yang biasanya dipakai dalam pembuatan barang konsumen tahan lama dan lebih dari 80% minyak nabati bunga matahari yang digunakan di dapur rumah tangga di negara India.
Menurut Nomura, perusahaan barang konsumsi bakal meneruskan biaya input yang lebih tinggi kepada konsumen dan kelangkaan pasokan komoditas meningkatkan harga produk di India yang juga sibuk bergulat dengan dampak buruk lonjakan harga minyak mentah yang menjadi lebih mahal secara global.
Diketahui India mengimpor lebih dari 85% minyak yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energinya dan Morgan Stanley menyatakan, bahwa "lonjakan harga minyak 25% baru-baru ini akan memperluas defisit transaksi berjalan India sebesar 75 basis poin dan inflasi sebesar 100 basis poin secara tahunan."
Sejak 1 Februari, ketika Menteri Keuangan India mengasumsikan harga minyak global sekitar USD75 per barel dalam perhitungan anggaran pemerintah periodes 2022-2023. Kenaikan tak terduga harga minyak global dan depresiasi rupee India telah menyebabkan kenaikan tagihan impor yang tak terduga, yang mengarah ke peningkatan defisit fiskal negara itu.
Di sisi lain pendapatan pemerintah juga berkurang apabila dibandingkan dengan pengeluarannya. Invasi Rusia ke Ukraina bisa berdampak USD23 miliar pada rekening pemerintah. Dampaknya terhadap anggaran pemerintah telah menjadi bencana besar.
Dalam hal impor, ada beberapa komoditas yang sebagian besar jadi kebutuhan utama India dari kedua negara (Ukraina Rusia) ini, di antaranya amonia, UAN dan amonium nitrat yang digunakan dalam pupuk; neon, paladium, dan platinum yang digunakan untuk membuat microchip yang penting buat produksi mobil.
Lalu nikel yang biasanya dipakai dalam pembuatan barang konsumen tahan lama dan lebih dari 80% minyak nabati bunga matahari yang digunakan di dapur rumah tangga di negara India.
Menurut Nomura, perusahaan barang konsumsi bakal meneruskan biaya input yang lebih tinggi kepada konsumen dan kelangkaan pasokan komoditas meningkatkan harga produk di India yang juga sibuk bergulat dengan dampak buruk lonjakan harga minyak mentah yang menjadi lebih mahal secara global.
Diketahui India mengimpor lebih dari 85% minyak yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energinya dan Morgan Stanley menyatakan, bahwa "lonjakan harga minyak 25% baru-baru ini akan memperluas defisit transaksi berjalan India sebesar 75 basis poin dan inflasi sebesar 100 basis poin secara tahunan."
Sejak 1 Februari, ketika Menteri Keuangan India mengasumsikan harga minyak global sekitar USD75 per barel dalam perhitungan anggaran pemerintah periodes 2022-2023. Kenaikan tak terduga harga minyak global dan depresiasi rupee India telah menyebabkan kenaikan tagihan impor yang tak terduga, yang mengarah ke peningkatan defisit fiskal negara itu.
Di sisi lain pendapatan pemerintah juga berkurang apabila dibandingkan dengan pengeluarannya. Invasi Rusia ke Ukraina bisa berdampak USD23 miliar pada rekening pemerintah. Dampaknya terhadap anggaran pemerintah telah menjadi bencana besar.
Lihat Juga :