Soal Label BPA, Waspadai Kandungan Berbahaya secara Utuh
Selasa, 05 April 2022 - 22:47 WIB
Ilustrasi produsen air kemasan. FOTO/ANTARA Photo
JAKARTA - Paparan Bisphenol A atau BPA yang ada dalam plastik kemasan makanan membahayakan kesehatan. Kandungan ini banyak ditemukan pada kemasan makanan yang sering digunakan masyarakat termasuk anak-anak.
Sebab itu penggunaan kandungan tersebut harus diwaspadai secara utuh dan dibatasi melalui aturan yang tegas. "Publik harus diberikan ruang untuk memahami risiko BPA secara utuh," ujar Koordinator riset dan teknologi FMCG Insights Muhammad Hasan, di Jakarta, Selasa (5/4/2022).
Baca Juga: BPOM dan Perang Dagang AMDK Galon
Menurut dia Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara terbuka menekankan perlunya mengantisipasi dampak peredaran kemasan makanan galon polikarbonat yang mengandung BPA pada kesehatan masyarakat di masa mendatang. Namun ada sejumlah pihak masih menganggap kandungan zat yang membahayakan konsumen tersebut sebagai hal biasa dan rancu.
Salah satunya terkait soal diskon efek paparan sinar matahari pada galon guna ulang oleh sejumlah akademisi. Hal itu dikhawatirkan menutup celah bagi publik memahami risiko BPA secara utuh. "Jauh lebih bijak jika akademisi menggelar riset membantu BPOM," katanya.
Sebab itu penggunaan kandungan tersebut harus diwaspadai secara utuh dan dibatasi melalui aturan yang tegas. "Publik harus diberikan ruang untuk memahami risiko BPA secara utuh," ujar Koordinator riset dan teknologi FMCG Insights Muhammad Hasan, di Jakarta, Selasa (5/4/2022).
Baca Juga: BPOM dan Perang Dagang AMDK Galon
Menurut dia Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara terbuka menekankan perlunya mengantisipasi dampak peredaran kemasan makanan galon polikarbonat yang mengandung BPA pada kesehatan masyarakat di masa mendatang. Namun ada sejumlah pihak masih menganggap kandungan zat yang membahayakan konsumen tersebut sebagai hal biasa dan rancu.
Salah satunya terkait soal diskon efek paparan sinar matahari pada galon guna ulang oleh sejumlah akademisi. Hal itu dikhawatirkan menutup celah bagi publik memahami risiko BPA secara utuh. "Jauh lebih bijak jika akademisi menggelar riset membantu BPOM," katanya.
Lihat Juga :