Panas Bumi Vital bagi Program Dekarbonisasi dan Energi Bersih Indonesia
Jum'at, 10 Juni 2022 - 14:50 WIB
Rachmat menambahkan, PGE saat ini mengoperasikan sendiri lapangan panas bumi dengan kapasitas terpasang 672 MW dan dengan skema Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation Contract/JOC) sebesar 1.205 MW. "Dengan demikian, 83% kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia berasal dari WKP PGE yang dikelola sendiri maupun yang dikerjasamakan dalam skema JOC," jelasnya.
Selanjutnya, PGE merencanakan pengembangan sebesar 600 MW yang akan menjadikan kapasitas terpasang own operation menjadi 1.272 MW di 2027. Rencana pengembangan tersebut setara dengan 32% target penambahan kapasitas terpasang PLTP dalam RUPTL 2021-2030.
"PGE juga sedang melakukan studi pengembangan terhadap pemanfaatan langsung panas bumi dan dan derivatif dari pemanfaatan energi panas bumi dalam program Beyond Energy," kata Rachmat.
Senada, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Perwakilan Industri Herman Darnel Ibrahim menilai Indonesia harus memaksimalkan pemanfaatan panas bumi untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan 23% pada 2025, dan target karbon netral (Net Zero Emission) pada 2060.
"Dibandingkan dengan EBT yang lain, panas bumi memang memiliki banyak kelebihan. Salah satu yang utama adalah pasokannya stabil dan capacity factor-nya tinggi," paparnya.
Dengan sifat itu, panas bumi menurutnya berpotensi menjadi pembangkit beban dasar (base-load). Sampai saat ini, hanya pembangkit berbasis fosil saja yang dapat menjadi pembangkit beban dasar, terutama PLTU berbahan bakar batu bara (PLTU). PLTP juga memiliki kelebihan lain, yakni pasokan listriknya stabil dan harganya yang termasuk murah. Itu pula yang menjadi pembeda dengan pembangkit EBT lain seperti air, tenaga surya, dan angin yang sangat bergantung pada cuaca.
Selanjutnya, PGE merencanakan pengembangan sebesar 600 MW yang akan menjadikan kapasitas terpasang own operation menjadi 1.272 MW di 2027. Rencana pengembangan tersebut setara dengan 32% target penambahan kapasitas terpasang PLTP dalam RUPTL 2021-2030.
"PGE juga sedang melakukan studi pengembangan terhadap pemanfaatan langsung panas bumi dan dan derivatif dari pemanfaatan energi panas bumi dalam program Beyond Energy," kata Rachmat.
Senada, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Perwakilan Industri Herman Darnel Ibrahim menilai Indonesia harus memaksimalkan pemanfaatan panas bumi untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan 23% pada 2025, dan target karbon netral (Net Zero Emission) pada 2060.
"Dibandingkan dengan EBT yang lain, panas bumi memang memiliki banyak kelebihan. Salah satu yang utama adalah pasokannya stabil dan capacity factor-nya tinggi," paparnya.
Dengan sifat itu, panas bumi menurutnya berpotensi menjadi pembangkit beban dasar (base-load). Sampai saat ini, hanya pembangkit berbasis fosil saja yang dapat menjadi pembangkit beban dasar, terutama PLTU berbahan bakar batu bara (PLTU). PLTP juga memiliki kelebihan lain, yakni pasokan listriknya stabil dan harganya yang termasuk murah. Itu pula yang menjadi pembeda dengan pembangkit EBT lain seperti air, tenaga surya, dan angin yang sangat bergantung pada cuaca.
Lihat Juga :