Peran Hulu Migas Tetap Penting di Tengah Laju Transisi Energi
Kamis, 16 Juni 2022 - 08:41 WIB
Dalam kesempatan tersebut, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PKS Mulyanto mengungkapkan bahwa produksi migas harus terus didorong. "Meskipun ada anggapan migas sudah habis masanya, tapi pada kenyataannya migas berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Selain itu, di tengah kondisi sekarang saat harga minyak tinggi, negara juga menikmati keuntungan tersebut," jelasnya.
Karena itu, kata Mulyanto, DPR mendorong pemerintah untuk lebih serius dalam mengejar target lifting migas sebesar 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12.000 juta kaki kubik per hari (MMscfd). Salah satunya, dengan menjadikan target tersebut dituangkan dalam regulasi yang jelas. "Target 1 juta bph itu harus dijadikan peraturan presiden (perpres) atau instruksi presiden (inpres). Kalau ada itu, ada dorongan kuat dari sisi keuangan," ujarnya.
Sementara, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya W Yudha menuturkan, transisi energi dilakukan secara bertahap. Hal itu otomatis membuat hulu migas masih sangat diperlukan. "Jadi teman-teman di industri migas tidak usah khawatir dengan kehadiran EBT, kita masih gunakan fosil tapi dengan teknologi bersih," tuturnya.
Dia menegaskan, DEN juga terus mendorong perbaikan iklim investasi migas agar investor betah berinvestasi di Indonesia dengan memonetisasi lapangan migas yang ada. DEN juga mewanti-wanti agar produksi migas jangan sampai turun karena berdasarkan skenario yang telah disusun pihaknya, gas menjadi tulang punggung dalam strategi transisi energi di Indonesia. "Migas masih jadi andalan sampai EBT siap mengambil alih," tandasnya.
Baca Juga: Daftar 24 Negara Lolos Piala Asia 2023 termasuk Indonesia
Karena itu, kata Mulyanto, DPR mendorong pemerintah untuk lebih serius dalam mengejar target lifting migas sebesar 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12.000 juta kaki kubik per hari (MMscfd). Salah satunya, dengan menjadikan target tersebut dituangkan dalam regulasi yang jelas. "Target 1 juta bph itu harus dijadikan peraturan presiden (perpres) atau instruksi presiden (inpres). Kalau ada itu, ada dorongan kuat dari sisi keuangan," ujarnya.
Sementara, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya W Yudha menuturkan, transisi energi dilakukan secara bertahap. Hal itu otomatis membuat hulu migas masih sangat diperlukan. "Jadi teman-teman di industri migas tidak usah khawatir dengan kehadiran EBT, kita masih gunakan fosil tapi dengan teknologi bersih," tuturnya.
Dia menegaskan, DEN juga terus mendorong perbaikan iklim investasi migas agar investor betah berinvestasi di Indonesia dengan memonetisasi lapangan migas yang ada. DEN juga mewanti-wanti agar produksi migas jangan sampai turun karena berdasarkan skenario yang telah disusun pihaknya, gas menjadi tulang punggung dalam strategi transisi energi di Indonesia. "Migas masih jadi andalan sampai EBT siap mengambil alih," tandasnya.
Baca Juga: Daftar 24 Negara Lolos Piala Asia 2023 termasuk Indonesia
Lihat Juga :