Cari Kontainer Produk Lokal, Pelni Gandeng INKA dan ITS

Jum'at, 22 Juli 2022 - 13:40 WIB
Sebagai badan usaha menurutnya, BUMN diharuskan memberikan keuntungan sebesar-besarnya, baik dalam nilai ekonomi dan sosial bagi Indonesia. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara dunia usaha dengan perguruan tinggi.

"Riset selama ini masih banyak yang menjadi kertas dan tidak tahu hilirnya. Ke depannya kita coba unlocking value model kolaborasi ini. Tentunya, ini kita mulai dari triple helix dulu yakni pemerintah selaku regulator dan mendorong dengan kebijakan, unsur usaha yang kami mula dari BUMN," ujarnya dikutip Jumat, (22/7/2022).

"Ke depan ada swasta dan satu lagi dengan universitas. Dari Pak Menteri, kita diminta memetakan sudah berapa BUMN yang memiliki inisiatif seperti ini," imbuh Rizal.

Sementara, Amalyos Chan menyampaikan, kerja sama tersebut berawal saat pandemi COVID-19, yang mana pihaknya mendorong INKA melibatkan perguruan tinggi dan pelaku usaha. Munculnya ide itu terkait dengan kurangnya reefer container atau peti kemas berpendingin baik angkutan dalam negeri maupun ekspor.

"Yang kedua terkait freight cost. Kita mengejar ekspor untuk devisa, di sisi lain belanja modal kita keluar lagi melalui impor. Jadi, devisa yang kita kejar, malah kita keluarkan lagi. Padahal, kolaborasi riset teknologi dengan pelaku usaha dan dukungan pemerintah bisa kita lakukan," katanya.

Pihaknya ke depan akan banyak menggali inovasi selain yang dilakukan oleh INKA. Ia beranggapan bahwa banyak sekali inovasi yang dapat dilakukan INKA selain bisnis intinya terkait produksi kereta api. Sedangkan, Agung Sedaju menjelaskan pengembangan reefer container telah memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang mencapai 60 persen. Hal itu lebih besar dari target minimal TKDN 40 persen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!