Beban Menyusut, Kerugian Garuda Indonesia Berkurang 41,54 Persen

Senin, 01 Agustus 2022 - 07:54 WIB
Kontribusi terbesar pemasukan GIAA berasal dari segmen penerbangan berjadwal yang mencapai USD270,57 juta, disusul penerbangan tidak berjadwal dan lainnya masing-masing sebesar USD24,07 juta, dan USD55,50 juta.

Beban usaha GIAA terpangkas 25,04% menjadi USD526,33 juta selama triwulan awal tahun ini, lebih rendah 25,04% dari posisi yang sama tahun lalu di angka USD702,17 juta. Ini berlangsung di semua lini beban seperti biaya operasional penerbangan, pemeliharaan-perbaikan, umum-administrasi, beban bandara, pelayanan penumpang, operasional hotel, transportasi dan jaringan.

Baca Juga: Kurang Laku Dijual, Garuda Indonesia Terus PDKT ke Investor

Namun, beban tiket penjualan dan promosi justru meningkat menjadi USD24,31 juta, dari posisi yang sama tahun lalu senilai USD22,93 juta. Dari sisi neraca per 31 Maret 2022, GIAA membukukan, jumlah aset sebanyak USD7,04 miliar atau setara Rp101,19 triliun. Nilai aset periode tersebut lebih rendah 2% dari akhir 2021 senilai USD7,19 miliar.

Kewajiban pembayaran utang atau liabilitas tumbuh 0,60% menjadi USD13,38 miliar (setara Rp192,14 triliun), dari akhir tahun lalu senilai USD13,30 miliar. Sementara itu, defisit ekuitas perseroan membengkak 3,68% menjadi USD6,33 juta (setara Rp90,95 triliun).
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!