Pertumbuhan di Kuartal II 2022 Jadi Modal Penting Hadapi Tekanan Global
Minggu, 07 Agustus 2022 - 08:30 WIB
"Investasi juga menunjukkan prestasi yang menggembirakan di tengah kencenderungan investor menempatkan investasi mereka di asset haven. Pertumbuhan konsumsi barang modal mencapai 3,07% (yoy). Kenaikan harga komoditas ekspor telah mendorong permintaan keluar lebih baik. Ekspor kita tumbuh 19,74% (yoy)," katanya.
Konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor yang tumbuh sangat baik telah menjadi lokomotif permintaan (demand) ke berbagai lapangan usaha. Capaian di kuartal II 2022 menjadi modal sangat baik menghadapi situasi ke depan yang tampaknya masih akan menghadapi tingginya harga komoditas.
Said berharap ada beberapa hal yang perlu terus menjadi fokus perhatian pemerintah ke depan:
1. Mengupayakan semaksimal mungkin inflasi dan pandemi Covid-19 terkendali. Memang harganya tidak murah, ongkos APBN 2022 sangat besar untuk menjaga daya beli rumah tangga, khususnya pada sektor makanan, dan transportasi sebagai core inflasi. Namun sejak awal APBN dirancang sebagai shock absorber menghadapi tekanan eksternal, dan ancaman laten pandemi.
2. Tren kenaikan suku bunga acuan atas kebijakan The Fed terus mendorong suku bunganya berimplikasi kenaikan suku bunga surat utang Indonesia. Cost of fund akan semakin mahal. Keadaan ini bila terus berlanjut akan terus mengoreksi fiskal karena beban pembayaran bunga utang akan terus naik, pararel dengan tingginya subsidi dan kompensasi energi.
3. Sebagai negara importir minyak bumi, kita memiliki kerentanan atas tren kenaikan harga minyak bumi. Pemerintah perlu terus mengambil langkah penting untuk pengadaan impor minyak bumi.
Konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor yang tumbuh sangat baik telah menjadi lokomotif permintaan (demand) ke berbagai lapangan usaha. Capaian di kuartal II 2022 menjadi modal sangat baik menghadapi situasi ke depan yang tampaknya masih akan menghadapi tingginya harga komoditas.
Said berharap ada beberapa hal yang perlu terus menjadi fokus perhatian pemerintah ke depan:
1. Mengupayakan semaksimal mungkin inflasi dan pandemi Covid-19 terkendali. Memang harganya tidak murah, ongkos APBN 2022 sangat besar untuk menjaga daya beli rumah tangga, khususnya pada sektor makanan, dan transportasi sebagai core inflasi. Namun sejak awal APBN dirancang sebagai shock absorber menghadapi tekanan eksternal, dan ancaman laten pandemi.
2. Tren kenaikan suku bunga acuan atas kebijakan The Fed terus mendorong suku bunganya berimplikasi kenaikan suku bunga surat utang Indonesia. Cost of fund akan semakin mahal. Keadaan ini bila terus berlanjut akan terus mengoreksi fiskal karena beban pembayaran bunga utang akan terus naik, pararel dengan tingginya subsidi dan kompensasi energi.
3. Sebagai negara importir minyak bumi, kita memiliki kerentanan atas tren kenaikan harga minyak bumi. Pemerintah perlu terus mengambil langkah penting untuk pengadaan impor minyak bumi.
Lihat Juga :