Krisis Covid-19, Pemerintah Harus Memikirkan Tiga Langkah Kedepan
Selasa, 30 Juni 2020 - 11:43 WIB
Pemerintah pun melakukan perlindungan sosial, dukungan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM. "Salah satu langkah penting adalah restrukturisasi kredit UMKM, dibarengi dengan subsidi bunga dan memberikan kemudahan untuk mendapatkan kredit modal kerja, baik melalui penempatan dana murah pada perbankan maupun penjaminan kredit," jelasnya.
Menkeu menambahkan yang berbeda dalam krisis kali ini adalah adanya pembatasan sosial. "Beruntung kita punya teknologi sehingga banyak transaksi dilakukan secara online. Episentrum pandemi di Indonesia yaitu Jakarta yang masyarakatnya lebih maju dalam penguasaan teknologi. Sehingga meskipun tidak ada kontak (fisik), transaksi terus berlangsung. Banyak orang beralih menggunakan transaksi dengan teknologi digital. Hal ini mengakselerasi penggunaan teknologi yang (selanjutnya) mentransformasi ekonomi ke digital," sambungnya.
Sri Mulyani juga menjelaskan strategi pembiayaan Indonesia di masa pandemi menyebabkan gejolak pasar keuangan, pendalaman pasar dan mengandalkan pembiayaan domestik menjadi sangat penting. Di Indonesia, peningkatan defisit terjadi secara dramatis menjadi di atas 6%. Baca: Sri Mulyani Akan Memperpanjang Jangka Waktu Penempatan Dana ke Himbara
Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan tiga langkah. Petama, melihat sumber pembiayaan yang kita miliki sendiri. Selanjutnya pemerintah juga memanfaatkan pasar surat berharga dalam negeri.
"Di samping itu, dimungkinkannya bank sentral untuk membeli dan berpartisipasi di pasar primer juga menjadi satu hal kritikal. Terakhir, peran lembaga keuangan multilateral dan bilateral juga sangat penting dalam memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah," tandasnya.
Menkeu menambahkan yang berbeda dalam krisis kali ini adalah adanya pembatasan sosial. "Beruntung kita punya teknologi sehingga banyak transaksi dilakukan secara online. Episentrum pandemi di Indonesia yaitu Jakarta yang masyarakatnya lebih maju dalam penguasaan teknologi. Sehingga meskipun tidak ada kontak (fisik), transaksi terus berlangsung. Banyak orang beralih menggunakan transaksi dengan teknologi digital. Hal ini mengakselerasi penggunaan teknologi yang (selanjutnya) mentransformasi ekonomi ke digital," sambungnya.
Sri Mulyani juga menjelaskan strategi pembiayaan Indonesia di masa pandemi menyebabkan gejolak pasar keuangan, pendalaman pasar dan mengandalkan pembiayaan domestik menjadi sangat penting. Di Indonesia, peningkatan defisit terjadi secara dramatis menjadi di atas 6%. Baca: Sri Mulyani Akan Memperpanjang Jangka Waktu Penempatan Dana ke Himbara
Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan tiga langkah. Petama, melihat sumber pembiayaan yang kita miliki sendiri. Selanjutnya pemerintah juga memanfaatkan pasar surat berharga dalam negeri.
"Di samping itu, dimungkinkannya bank sentral untuk membeli dan berpartisipasi di pasar primer juga menjadi satu hal kritikal. Terakhir, peran lembaga keuangan multilateral dan bilateral juga sangat penting dalam memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah," tandasnya.
(bon)
Lihat Juga :