5 Pengusaha Keturunan Tionghoa Terkaya di Indonesia, Hartanya Bikin Melongo

Kamis, 18 Agustus 2022 - 21:50 WIB
Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981. Di tangan dua bersaudara Hartono tersebut, Djarum bertumbuh menjadi perusahaan raksasa. Djarum saat ini memiliki pangsa pasar yang besar di Amerika Serikat.

Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok ini menjelma dari perusahaan rokok menjadi Group Bisnis yang berinvestasi di berbagai sektor antara lain perbankan, properti, agrobisnis, elektronik dan multimedia.

2. Keluarga Widjaja

Pada posisi kedua ada Widjaja family dengan kekayaan tercatat sebesar USD9,7 miliar atau senilai dengan Rp138,59 triliun. Keluarga Widjaja mewarisi kerajaan bisnis Eka Tjipta Widjaja, yang meninggal pada Januari 2019 pada usia 98 tahun.

Datang sebagai imigran China ke Indonesia, Eka Tjipta Widjaja mulai menjual biskuit saat remaja. Eka pindah ke Indonesia ketika berusia 9 tahun. Di usianya yang masih sangat muda, Eka yang saat itu masih dipanggil Oei Ek Tjhong pindah ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Tiba di Makassar sekitar tahun 1932, Eka terjun langsung membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Karir bisnis Eka mulai bersinar pada tahun 1980 ketika memutuskan membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau.

Untuk menopang usaha perkebunan kelapa sawitnya Eka juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Pada tahun 1981 Eka lalu membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1.000 hektar.

Dia juga menyiapkan pabrik dengan kapasitas 20 ribu ton teh. Tak lantas puas berbisnis kelapa sawit dan teh, Eka juga merambah bisnis bank. Dia kemudian membeli Bank Internasional Indonesia (BII) dengan aset mencapai Rp13 miliar.

Eka lantas merambah ke bisnis kertas. Dia membeli PT Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun.

Kemudian ia melebarkan sayap bisnisnya di bidang real estat dan sukses dengan bendera Sinar Mas Group, yang merupakan salah satu konglomerat pada masa Orde Baru. Eka juga membangun ITC Mangga Dua, Green View apartemen yang berada di Roxy, Ambassador di Kuningan, dan sejumlah properti lainnya.

Saat ini Sinar Mas memiliki banyak lini bisnis, mulai dari bidang kertas, real estat, jasa keuangan, kesehatan, agribisnis dan telekomunikasi. Empat putra tertua Widjaja mengawasi kekaisaran yang ia bangun, sementara yang lain telah membangun bisnis mereka sendiri.

3. Anthoni Salim

Pada posisi ketiga ada Anthoni Salim dengan kekayaan USD8,5 miliar setara Rp121,45 triliun. Ia memimpin Salim Group, dengan beragan investasi di bidang makanan, ritel, perbankan, telekomunikasi hingga energi.

Salim adalah CEO Indofood dengan pendapatan sebesar USD5,8 miliar yang merupakan salah satu pembuat mie instan terbesar di dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!