Pupuk Indonesia Catatkan Produksi 6,2 Juta Ton di Semester I/2020
Rabu, 08 Juli 2020 - 12:45 WIB
(Baca Juga: Mulai Sekarang, Jangan Coba-Coba dengan Pupuk Bersubsidi)
Selain produk pupuk, Perseroan juga membukukan pertumbuhan pada produksi produk nonpupuk sebesar 8,85%. Dimana volume produksi produk non pupuk tercatat sebesar 3.584.117 ton, sementara periode sama tahun lalu volume produksi nonpupuk mencapai 3.292.792 ton. Total produksi nonpupuk sepanjang semester I/2020 terdiri dari 3.101.177 ton amoniak, 361.662 ton Asam Sulfat dan 121.278 ton Asam Fosfat.
Aas menambahkan, selain produksi yang meningkat, perseroan juga berhasil menekan biaya produksi sehingga dapat lebih efisien di setiap tahunnya. Sebagai contoh, dalam hal efisiensi pemakaian bahan baku, sepanjang tahun 2019 Perseroan mencatatkan realisasi rasio konsumsi gas untuk urea sebesar 27,56 mmbtu/ton, lebih efisien dari rencana yang sebesar 28,28 mmbtu/ton. Sedangkan rasio konsumsi gas untuk amoniak sebesar 35,92 mmbtu/ton yang juga lebih efisien dari rencana sebesar 36,05 mmbtu/ton.
"Efisiensi ini penting dalam mengurangi beban pemerintah atas subsidi, termasuk untuk peningkatan daya saing produk Pupuk Indonesia Grup," kata Aas.
Aas sendiri memperkirakan efisiensi biaya produksi pada tahun ini akan semakin meningkat. Hal itu dikarenakan Pemerintah telah menetapkan kebijakan penyesuaian harga gas bagi industri pupuk. Penurunan harga gas berdampak positif bagi sektor industri, termasuk industri pupuk. Kebijakan tersebut memberi manfaat efisiensi yang cukup signifikan terhadap ongkos produksi, yang pada akhirnya mengurangi beban subsidi Pemerintah untuk komoditas pupuk.
Selain produk pupuk, Perseroan juga membukukan pertumbuhan pada produksi produk nonpupuk sebesar 8,85%. Dimana volume produksi produk non pupuk tercatat sebesar 3.584.117 ton, sementara periode sama tahun lalu volume produksi nonpupuk mencapai 3.292.792 ton. Total produksi nonpupuk sepanjang semester I/2020 terdiri dari 3.101.177 ton amoniak, 361.662 ton Asam Sulfat dan 121.278 ton Asam Fosfat.
Aas menambahkan, selain produksi yang meningkat, perseroan juga berhasil menekan biaya produksi sehingga dapat lebih efisien di setiap tahunnya. Sebagai contoh, dalam hal efisiensi pemakaian bahan baku, sepanjang tahun 2019 Perseroan mencatatkan realisasi rasio konsumsi gas untuk urea sebesar 27,56 mmbtu/ton, lebih efisien dari rencana yang sebesar 28,28 mmbtu/ton. Sedangkan rasio konsumsi gas untuk amoniak sebesar 35,92 mmbtu/ton yang juga lebih efisien dari rencana sebesar 36,05 mmbtu/ton.
"Efisiensi ini penting dalam mengurangi beban pemerintah atas subsidi, termasuk untuk peningkatan daya saing produk Pupuk Indonesia Grup," kata Aas.
Aas sendiri memperkirakan efisiensi biaya produksi pada tahun ini akan semakin meningkat. Hal itu dikarenakan Pemerintah telah menetapkan kebijakan penyesuaian harga gas bagi industri pupuk. Penurunan harga gas berdampak positif bagi sektor industri, termasuk industri pupuk. Kebijakan tersebut memberi manfaat efisiensi yang cukup signifikan terhadap ongkos produksi, yang pada akhirnya mengurangi beban subsidi Pemerintah untuk komoditas pupuk.
Lihat Juga :