Lagi Trend Finishing Rumah dengan Semen Ekspos
Rabu, 08 Juli 2020 - 14:11 WIB
Bahan baku untuk membuat adukan plesteran terdiri dari semen dan pasir yang sudah diayak terlebih dahulu untuk memisahkan kerikil yang terkandung di dalamnya. "Adukan plesteran mencampurkan semen dan pasir memakai perbandingan 1:3 atau 1:4 tergantung kualitas semen yang digunakan," ungkapnya.
Ketebalan lapisannya sekitar 1-2 cm agar tidak memboroskan material. Dinding plasteran yang sudah selesai dibuat kemudian dikeringkan sampai setengah kering. Setelah itu, lapisi dinding plaster tersebut dengan acian.
Indira menyarankan, penggunaan semen instan disarankan untuk bahan acian karena hasilnya akan lebih bagus, proses pengeringannya lebih sempurna, pengerjaannya lebih mudah, lebih kuat, dan tahan lama. Warnanya pun lebih hidup. Kerjakan proses pengacian secara manual menggunakan roskam, lalu ratakan lapisan acian tersebut memakai jidar panjang.
"Tebal lapisan acian yang kami sarankan berkisar antara 1,5-3 mm. Setelah dinding selesai dikerjakan, tunggu sekitar 3-5 hari supaya kondisinya benar-benar kering sebelum kemudian dikreasikan dengan elemen dekoratif sesuai selera," tambah Indira. (Baca juga: Menata Hunian Saat Penerapan di Rumah Saja)
Penggunaan material semen ekspos pada hunian memang cukup banyak pada desain arsitektur masa kini, tetapi tidak berkembang sebagai tren. Sebab, sebagian orang cenderung menganggap penggunaan material ekspos kurang homey dan sering masuk stereotip hanya sebagai desain yang serupa kafe maupun gedung umum lainnya. Padahal, beberapa orang sudah mulai terbuka dengan penggunaan material tersebut, khususnya pada desain yang low budget. Jadi, penggunaan material ini tergantung pada selera dan kebutuhan masing-masing pemilik properti.
Selain itu, mengekspos semua material dari dinding, lantai, sampai plafon menjadi salah satu solusi keterbatasan anggaran, juga dapat menghemat waktu pengerjaan dan tenaga tukang.
Selain dinding, atap juga dapat menggunakan material sama dengan dinding sehingga tercipta satu kesatuan bentuk yang solid. Seperti yang sedang dikerjakan arsitek Yudhi Puspa Tia pada studionya. Dia menyebut atap spandek plaster karena atap menggunakan material semen senada dengan dinding.
Idealnya memang memakai beton, tetapi tentu hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit. "Selain menghemat juga akan unik karena tidak memakai genteng beton atau atap bitumen untuk material dindingnya karena terlalu bertekstur," ujarnya. (Lihat videonya: Ular Piton 2,5 Meter Tutupi Saluran Air di Cilegon)
Akhirnya, dia menggunakan material spandek plester. Sebenarnya selain spandek, Tia juga menggunakan multipleks agar tampilannya bisa lebih tipis dan bersih.
Ketebalan lapisannya sekitar 1-2 cm agar tidak memboroskan material. Dinding plasteran yang sudah selesai dibuat kemudian dikeringkan sampai setengah kering. Setelah itu, lapisi dinding plaster tersebut dengan acian.
Indira menyarankan, penggunaan semen instan disarankan untuk bahan acian karena hasilnya akan lebih bagus, proses pengeringannya lebih sempurna, pengerjaannya lebih mudah, lebih kuat, dan tahan lama. Warnanya pun lebih hidup. Kerjakan proses pengacian secara manual menggunakan roskam, lalu ratakan lapisan acian tersebut memakai jidar panjang.
"Tebal lapisan acian yang kami sarankan berkisar antara 1,5-3 mm. Setelah dinding selesai dikerjakan, tunggu sekitar 3-5 hari supaya kondisinya benar-benar kering sebelum kemudian dikreasikan dengan elemen dekoratif sesuai selera," tambah Indira. (Baca juga: Menata Hunian Saat Penerapan di Rumah Saja)
Penggunaan material semen ekspos pada hunian memang cukup banyak pada desain arsitektur masa kini, tetapi tidak berkembang sebagai tren. Sebab, sebagian orang cenderung menganggap penggunaan material ekspos kurang homey dan sering masuk stereotip hanya sebagai desain yang serupa kafe maupun gedung umum lainnya. Padahal, beberapa orang sudah mulai terbuka dengan penggunaan material tersebut, khususnya pada desain yang low budget. Jadi, penggunaan material ini tergantung pada selera dan kebutuhan masing-masing pemilik properti.
Selain itu, mengekspos semua material dari dinding, lantai, sampai plafon menjadi salah satu solusi keterbatasan anggaran, juga dapat menghemat waktu pengerjaan dan tenaga tukang.
Selain dinding, atap juga dapat menggunakan material sama dengan dinding sehingga tercipta satu kesatuan bentuk yang solid. Seperti yang sedang dikerjakan arsitek Yudhi Puspa Tia pada studionya. Dia menyebut atap spandek plaster karena atap menggunakan material semen senada dengan dinding.
Idealnya memang memakai beton, tetapi tentu hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit. "Selain menghemat juga akan unik karena tidak memakai genteng beton atau atap bitumen untuk material dindingnya karena terlalu bertekstur," ujarnya. (Lihat videonya: Ular Piton 2,5 Meter Tutupi Saluran Air di Cilegon)
Akhirnya, dia menggunakan material spandek plester. Sebenarnya selain spandek, Tia juga menggunakan multipleks agar tampilannya bisa lebih tipis dan bersih.
Lihat Juga :