Pengembangan Blue dan Green Ammonia untuk Kurangi Emisi Karbon
Rabu, 16 November 2022 - 18:20 WIB
Dekarbonisasi untuk industri pupuk secara teknis memungkinkan namun membutuhkan terobosan dari sisi teknologi, perubahan preferensi pelanggan dan tentunya terobosan regulasi. Melihat tantangan dan peluang yang ada, PI Grup akan melakukan pengembangan blue ammonia dan green ammonia.
Diproyeksikan kebutuhan blue dan green ammonia akan mulai berkembang di tahun 2030 dan terus meningkat hingga 2060. Demand pada tahun 2060 akan mencapai 7 juta ton ekivalen hidrogen, yang mencakup 50% kebutuhan shipping fuel, 7% kebutuhan bahan bakar truk dan 4% sektor tenaga listrik.
Peluang blue ammonia terbilang cukup besar dengan adanya kebutuhan Pemerintah Jepang melakukan co-firing ammonia pada pembangkit listriknya. Diproyeksikan kebutuhan blue ammonia Pemerintah Jepang sebesar 3 juta ton pada 2030 dan meningkat menjadi 30 ton pada tahun 2050.
Sementara itu, pengembangan green ammonia sangat bergantung pada akses listrik murah tanpa karbon. Pemerintah sedang mempercepat pengembangan energi terbarukan dan pangsa energi terbarukan sebagai pasokan energi primer telah meningkat hingga 63%. Ini akan bermanfaat bagi industri dan tentunya untuk industri pupuk. Untuk mencapai pengurangan emisi industri yang signifikan, PI Group telah berkomitmen dan menjalankan berbagai inisiatif sejak dekade terakhir.
“Melalui revitalisasi industri pupuk, kami telah membangun pabrik Pupuk Kaltim-5 di Bontang, Pusri-IIB di Palembang, dan Amurea II di Gresik. Pabrik baru dengan teknologi terbaru ini mengelola efisiensi energi dan mengarahkan kami untuk memenuhi target NDC dibandingkan dengan bisnis seperti biasa,” imbuh Nugroho.
Pengembangan blue ammonia sendiri sangat bergantung pada carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture utilization and storage (CCUS). IEA menyatakan bahwa penerapan CCS dapat menurunkan emisi dari produksi amonia sebesar 65% hingga 70%.
Diproyeksikan kebutuhan blue dan green ammonia akan mulai berkembang di tahun 2030 dan terus meningkat hingga 2060. Demand pada tahun 2060 akan mencapai 7 juta ton ekivalen hidrogen, yang mencakup 50% kebutuhan shipping fuel, 7% kebutuhan bahan bakar truk dan 4% sektor tenaga listrik.
Peluang blue ammonia terbilang cukup besar dengan adanya kebutuhan Pemerintah Jepang melakukan co-firing ammonia pada pembangkit listriknya. Diproyeksikan kebutuhan blue ammonia Pemerintah Jepang sebesar 3 juta ton pada 2030 dan meningkat menjadi 30 ton pada tahun 2050.
Sementara itu, pengembangan green ammonia sangat bergantung pada akses listrik murah tanpa karbon. Pemerintah sedang mempercepat pengembangan energi terbarukan dan pangsa energi terbarukan sebagai pasokan energi primer telah meningkat hingga 63%. Ini akan bermanfaat bagi industri dan tentunya untuk industri pupuk. Untuk mencapai pengurangan emisi industri yang signifikan, PI Group telah berkomitmen dan menjalankan berbagai inisiatif sejak dekade terakhir.
“Melalui revitalisasi industri pupuk, kami telah membangun pabrik Pupuk Kaltim-5 di Bontang, Pusri-IIB di Palembang, dan Amurea II di Gresik. Pabrik baru dengan teknologi terbaru ini mengelola efisiensi energi dan mengarahkan kami untuk memenuhi target NDC dibandingkan dengan bisnis seperti biasa,” imbuh Nugroho.
Pengembangan blue ammonia sendiri sangat bergantung pada carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture utilization and storage (CCUS). IEA menyatakan bahwa penerapan CCS dapat menurunkan emisi dari produksi amonia sebesar 65% hingga 70%.
Lihat Juga :