5 Negara yang Paling Bergantung pada Laut China Selatan

Senin, 21 November 2022 - 05:42 WIB
Seorang pejabat senior kementerian pertahanan yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip oleh surat kabar itu mengatakan, bahwa patroli maritim itu "dimaksudkan untuk memperingatkan China, yang mendistorsi hukum internasional, untuk melindungi kebebasan navigasi dan hukum laut."

Operasi yang dilakukan Jepang berada di bawah Pasukan Bela Diri Maritim yang dimulai pada Maret tahun lalu, demikian ungkap Yomiuri Shimbun.

Pada 22 Juli, pemerintah Jepang merilis buku putih Pertahanan Jepang 2022 yang menuduh China berusaha mengubah status quo secara sepihak di Laut China Timur dan Selatan.

Kementerian Pertahanan Nasional China menanggapi dengan teguran keras, dan menuduh dokumen itu membuat "pernyataan yang tidak bertanggung jawab."

5. Korea Selatan

Korea Selatan "sengaja diam tentang Laut China Selatan" karena ingin "mempertahankan dukungan dengan China," ungkap Graham, mengutip fokus utama Seoul tertuju pada masalah Korea Utara.

"Secara geografis, dibandingkan dengan Jepang, mereka lebih sulit untuk mengalihkan perdagangan," katanya.

"Pengakuan sebagai negara perdagangan, dan untuk mengamankan jalur pasokan, termasuk investasinya ke Vietnam, Korea Selatan memiliki angkatan laut yang aktif."

Ekonomi terbesar keempat di Asia tersebut – diperkirakan mencapai sekitar USD1,8 triliun pada tahun 2021 – dimana secara ekonomi lebih bergantung pada impor energi daripada Jepang, demikian menurut Graham.

Sebagai konsumen energi terbesar ke-8 di dunia, Korea Selatan mengimpor hampir 92,8% dari konsumsi energi dan sumber daya alamnya, seperti diperlihatkan data pemerintah. Pada tahun 2021, Korea Selatan menghabiskan USD137,2 miliar untuk impor energi, setara dengan hampir 22,3% dari total impornya.

Menurut angka dari Administrasi Informasi Energi AS, Timur Tengah menyumbang 69% dari impor minyak mentah Korea Selatan 2019, turun dibandingkan lebih dari 80% sebelum 2018.

Ketika sebagian besar impor minyak mentah Korea Selatan transit melalui Laut China Selatan, kepentingan strategisnya saat ini bagi keamanan nasional tidak dapat diremehkan.

"Dengan peluncuran kapal induk China yang dirancang dan dibangun di dalam negeri pada Juni 2022, Fujian – dinamai sama dengan provinsi yang paling dekat dengan Taiwan – dominasi dan supremasi angkatan laut di Pasifik belum pernah ditantang seperti ini sejak Perang Dunia II," ungkap Brown.

"Konflik Eropa telah menimbulkan kekhawatiran tentang sistem perdagangan global," katanya.

"Peringatan tentang efek konflik di Laut China Selatan harus ditanggapi dengan serius. Kita semua harus mendengarkan seruan dari negara-negara seperti Singapura dan Korea Selatan untuk menghindarinya dan mengurangi ketegangan," jelasnya.

Semakin Pentingnya Laut Cina Selatan

Dari perspektif sejarah, Laut China Selatan adalah pusat Indo-Pasifik. Tetapi signifikansinya jauh melampaui wilayah tersebut.

Mengingat ketegangan diplomatik dan ekonomi global yang berkembang, kepentingan strategis Laut China Selatan diperkirakan akan terus meningkat.

Pada tahun 2021, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mengatakan, bahwa lebih dari 80% volume perdagangan internasional dibawa melalui laut, dengan 54% perdagangan maritim dunia terjadi di Asia.

Namun, ketidakpastian pandemi masih terbawa dalam bentuk gangguan rantai pasokan, perubahan pola globalisasi, biaya transportasi dan kemacetan di pelabuhan.

Secara keseluruhan, UNCTAD memperkirakan bahwa perdagangan maritim dunia pulih sebesar 4,3% pada tahun 2021. Ia juga memperkirakan, bahwa volume perdagangan dapat tumbuh pada tingkat tahunan 2,4% antara 2022 dan 2026.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!