Di Malaysia Sudah Turun, di Indonesia Kapan BBM Turun?
Selasa, 28 April 2020 - 15:52 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati juga ikut bersuara. Menurutnya, alasan Pertamina belum menurunkan harga BBM, karena BBM di Indonesia ditentukan oleh formula yang dirumuskan oleh Kementerian ESDM. Sebagai BUMN, Pertamina akan mengikuti setiap ketetapan pemerintah.
Pertimbangan lainnya, sebagai BUMN, Pertamina punya kewajiban membeli minyak dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas yang beroperasi dalam negeri. Kewajiban ini bertujuan untuk menekan defisit Migas, yang terjadi sejak tahun lalu. Nah, harga minyak yang dibeli Pertamina dari KKKS tidak semurah jika Pertamina membeli lewat impor.
Nicke menjelaskan pihaknya, harus prioritaskan membeli minyak mentah dari dalam negeri, kebutuhannya mencapai 40%. Jika Pertamina membeli minyak mentah lewat mekanisme impor, maka yang terjadi KKKS di dalam negeri akan berhenti semua. Peran Pertamina sebagai BUMN juga tidak bisa beraksi layaknya trader. Untuk perusahaan Migas, dalam kondisi seperti ini akan memilih opsi untuk berhenti operasi kilang dan hulu. Lalu mememenuhi kebutuhan Minyak dari impor yang lebih murah. Sebagai BUMN, Pertamina tidak bisa setop operasi kilang dan hulu.
Di sisi hilir Pertamina juga tengah sempoyongan. Penjualan BBM Pertamina sudah anjlok sekitar 24%. Ini akibat dampak dari kebijakan pemerintah mencegah perluasan Covid-19 melalui PSBB dan sosial distancing di bebragai daerah di Indonesia. Menurut Nicke soal harga, untuk kawasan ASEAN, BBM di Indonesia masih cukup murah. Hanya kalah dari Malaysia saja. Sebagai catatan Malaysia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang produksinya aman dan tergabung dalam OPEC.
Seharusnya pemerintah memang segera mengambil kebijakan menurunkan harga BBM. Toh harga minyak dunia saat ini juga sudah jauh dari acuan APBN 2020, yakni sebesar US$63 per barel.
Pertimbangan lainnya, sebagai BUMN, Pertamina punya kewajiban membeli minyak dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas yang beroperasi dalam negeri. Kewajiban ini bertujuan untuk menekan defisit Migas, yang terjadi sejak tahun lalu. Nah, harga minyak yang dibeli Pertamina dari KKKS tidak semurah jika Pertamina membeli lewat impor.
Nicke menjelaskan pihaknya, harus prioritaskan membeli minyak mentah dari dalam negeri, kebutuhannya mencapai 40%. Jika Pertamina membeli minyak mentah lewat mekanisme impor, maka yang terjadi KKKS di dalam negeri akan berhenti semua. Peran Pertamina sebagai BUMN juga tidak bisa beraksi layaknya trader. Untuk perusahaan Migas, dalam kondisi seperti ini akan memilih opsi untuk berhenti operasi kilang dan hulu. Lalu mememenuhi kebutuhan Minyak dari impor yang lebih murah. Sebagai BUMN, Pertamina tidak bisa setop operasi kilang dan hulu.
Di sisi hilir Pertamina juga tengah sempoyongan. Penjualan BBM Pertamina sudah anjlok sekitar 24%. Ini akibat dampak dari kebijakan pemerintah mencegah perluasan Covid-19 melalui PSBB dan sosial distancing di bebragai daerah di Indonesia. Menurut Nicke soal harga, untuk kawasan ASEAN, BBM di Indonesia masih cukup murah. Hanya kalah dari Malaysia saja. Sebagai catatan Malaysia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang produksinya aman dan tergabung dalam OPEC.
Seharusnya pemerintah memang segera mengambil kebijakan menurunkan harga BBM. Toh harga minyak dunia saat ini juga sudah jauh dari acuan APBN 2020, yakni sebesar US$63 per barel.
(eko)
Lihat Juga :