Rusia Bakal 'Kubur' Pipa Gas Nord Stream Usai Ledakan Misterius

Senin, 06 Maret 2023 - 11:28 WIB
loading...
Rusia Bakal Kubur Pipa...
Pipa gas Nord Stream bawah laut Rusia yang pecah akan ditutup dan dirobohkan karena tidak ada rencana segera untuk memperbaiki atau mengaktifkannya kembali. Foto/Dok
A A A
FRANKFURT - Pipa gas Nord Stream bawah laut Rusia yang pecah akan ditutup dan dirobohkan karena tidak ada rencana segera untuk memperbaiki atau mengaktifkannya kembali. Hal ini disebutkan oleh sumber yang tidak disebutkan namanya, seperti dilansir Reuters.

Baca Juga: Mengungkap Fakta-fakta Alternatif Eropa Jika Rusia Matikan Pasokan Gas Selamanya

Nord Stream 1 dan Nord Stream 2, masing-masing terdiri dari dua pipa yang dibangun oleh Gazprom untuk memompa 110 miliar meter kubik (bcm) gas alam per tahun ke Jerman di bawah Laut Baltik. Namun tiga pipa telah pecah oleh ledakan pada bulan September, lalu yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

Sedangkan salah satu pipa Nord Stream 2 tetap utuh. Tetapi ketegangan yang memanas antara Moskow dan Barat atas perang Rusia Ukraina pada saat itu telah membuat Nord Stream 1 terhenti dan mencegah pipa kembarannya yang dikritik oleh Washington dan Kiev karena meningkatkan ketergantungan Jerman pada Rusia untuk kembali berfungsi.

Gazprom mengatakan, secara teknis ada kemungkinan untuk memperbaiki jalur pipa yang pecah. Tetapi dua sumber yang akrab dengan rencana tersebut seperti diungkap Reuters, mengatakan Moskow tidak melihat prospek hubungan dengan Barat bakal membaik di masa mendatang terkait apakah jaringan pipa diperlukan.

Baca Juga: Rusia: AS Harus Buktikan Jika Memang Tidak Hancurkan Nord Stream

Eropa telah secara drastis memotong impor energinya dari Rusia selama setahun terakhir, sementara ekspor Gazprom yang dikendalikan negara di luar bekas Uni Soviet hampir berkurang setengahnya pada tahun 2022 untuk mencapai titik terendah pasca-Soviet sebesar 101 bcm.

Seorang sumber Rusia mengatakan, Rusia melihat proyek itu bakal "terkubur". Dua lainnya mengatakan, tidak ada rencana untuk memperbaiki pipa yang pecah, atau setidaknya menjaganya tetap ada untuk kemungkinan pengaktifan kembali di masa depan.

Sumber lain yang akrab dengan rencana tersebut mengkonfirmasi bahwa para pemangku kepentingan sedang mempertimbangkan konservasi. Ini kemungkinan besar berarti menyegel ujung yang pecah dan memasukkan lapisan ke dalam pipa untuk mencegah korosi lebih lanjut dari air laut.

Sedangkan salah satu sumber Rusia mengatakan, bahwa jika gas alam cair (LNG) lewat pengiriman laut dari Amerika Serikat yang digunakan Eropa untuk mengimbangi beberapa pasokan Rusia-nya menjadi jauh lebih mahal, Eropa mungkin akan kembali siap untuk membeli lebih banyak dari Rusia.

Kementerian Energi Moskow merujuk pertanyaan kepada operator pipa, diterangkan Reuters belum memberikan komentar, begitu juga dengan Gazprom. Engie, Gasunie dan Wintershall DEA - pemangku kepentingan di Nord Stream AG, operator Nord Stream 1 - juga tidak memberikan tanggapan.

Seorang juru bicara E.ON Jerman, yang juga memiliki saham di Nord Stream AG, mengatakan: "Sepengetahuan kami sebagai pemegang saham minoritas, tidak ada keputusan yang dibuat, baik untuk atau menentang pemulihan."

Siapa yang Meledakkan Pipa?

Moskow telah menuding Barat berada di balik ledakan Nord Stream, namun tanpa memberikan bukti. Bulan lalu Gedung Putih membantah tuduhan bahwa Washington harus bertanggung jawab terkait insiden ledakan tersebut yang diungkapkan jurnalis investigasi AS Seymour Hersh dalam postingan blognya.

Sementara itu investigasi yang dilakukan oleh Denmark, Jerman dan Swedia belum selesai. Nord Stream 1 sejauh ini tetap menganggur sejak akhir Agustus 2022 usai ditutup untuk pemeliharaan, tetapi tidak pernah dimulai kembali karena Rusia dan Barat berdebat tentang servis turbin pompa di tengah sanksi Barat.

Di sisi lain Nord Stream 2 sudah selesai pada September 2021 tetapi belum beroperasi, seiring meningkatnya ketegangan dengan Rusia dan adanya masalah karena regulator Jerman menolak untuk mengesahkannya. Berlin kemudian membekukan proyek itu beberapa hari sebelum Moskow mengirim angkatan bersenjatanya ke Ukraina pada 24 Februari tahun lalu.

Presiden Rusia, Vladimir Putin telah mengusulkan penggunaan jaringan Nord Stream 2 yang tidak rusak untuk memompa gas. Tetapi Jerman yang ingin mengakhiri ketergantungannya pada Rusia, menolak gagasan itu. Polandia juga telah berhenti membeli gas Rusia.

Rusia saat ini hanya mengekspor sekitar 40 juta meter kubik per hari gas pipa ke Eropa, melalui Sudzha di perbatasan antara Ukraina dan Slovakia.

Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan pada hari Jumat bahwa Moskow, berencana mendirikan pusat gas di Turki untuk menggantikan rute Baltik, tidak akan lagi bergantung pada Barat sebagai mitra energi.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Ekonomi Rusia Menyusut...
Ekonomi Rusia Menyusut tapi Rakyatnya Makin Kaya, Moskow Kebal Sanksi Barat?
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Rekomendasi
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Breaking News! Polisi...
Breaking News! Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya Sadis Wanita selama 3 Tahun di Kosan
Ketua PMI DKI Jakarta:...
Ketua PMI DKI Jakarta: Relawan Muda Garda Terdepan yang Siap Go Internasional
Berita Terkini
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved