BI Harus Persiapkan Instrumen Selamatkan Industri Keuangan Nasional
Selasa, 28 April 2020 - 23:13 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan kebutuhan perusahaan untuk melakukan pembayaran utang jangka pendek relatif besar, namun pendapatan anjlok. Ada resiko mismatch currency sehingga ability to pay perusahaan dalam membayar utang valas rendah. BI juga harus ambil langkah seperti segera turunkan bunga acuan 25-50 bps. Bunga yang lebih rendah bisa membantu swasta untuk meminjam lebih murah," ujar Bhima.
Jika pertumbuhan ekonomi minus 2% tahun ini maka gelombang gagal bayar utang swasta bisa ancam perekonomian. Di sisi lain stimulus pemerintah kecil sekali 2,5% dari PDB jadi tidak mampu untuk bendung anjloknya kinerja sektor industri besar dan UMKM.
"Stimulus harus ditambah. Masih banyak anggaran yang bisa dipangkas, seperti proyek infrastruktur, pembubaran lembaga yang boros seperti BPIP, memangkas jumlah stafsus serta pangkas gaji dan tunjangan DPR," jelasnya.
Presiden Direktur MNC Bank Mahdan mengapresiasi, kebijakan BI yang telah menurunkan suku bunga kebijakan BI7DDR pada Februari dan Maret masing-masing sebesar 25bps. Langkah pre-emptive tersebut cukup menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Dengan penurunan BI7DDR tersebut, industri perbankan mampu menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) sehingga dunia usaha dapat terbantu.
Untuk MNC Bank sendiri, SBDK MNC Bank secara bank wide turun dari 12,99% per Februari 2020 menjadi 12,53% per Maret 2020. "Hal tersebut tentu membantu debitur kami baik produktif maupun konsumtif," ujar Mahdan hari ini di Jakarta.
Dengan penurunan rate tersebut dan berbagai insentif kebijakan regulator, kelancaran dan kualitas kredit tetap bisa terjaga. Dengan stimulus countercyclical COVID-19 yang dikeluarkan OJK sebagai landasan relaksasi kredit bagi usaha yang terdampak, ekonomi tetap bergerak meski di kondisi pandemi.
Namun, selain memberikan relaksasi sesuai regulasi, perbankan seperti MNC Bank juga menggiatkan pengawasan kredit untuk menjaga kualitas kredit. Relaksasi pun tidak serta merta, namun diberikan sesuai kasus per kasus yang memaksimalkan potensi ekonomi baik bagi debitur maupun bank.
Jika pertumbuhan ekonomi minus 2% tahun ini maka gelombang gagal bayar utang swasta bisa ancam perekonomian. Di sisi lain stimulus pemerintah kecil sekali 2,5% dari PDB jadi tidak mampu untuk bendung anjloknya kinerja sektor industri besar dan UMKM.
"Stimulus harus ditambah. Masih banyak anggaran yang bisa dipangkas, seperti proyek infrastruktur, pembubaran lembaga yang boros seperti BPIP, memangkas jumlah stafsus serta pangkas gaji dan tunjangan DPR," jelasnya.
Presiden Direktur MNC Bank Mahdan mengapresiasi, kebijakan BI yang telah menurunkan suku bunga kebijakan BI7DDR pada Februari dan Maret masing-masing sebesar 25bps. Langkah pre-emptive tersebut cukup menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Dengan penurunan BI7DDR tersebut, industri perbankan mampu menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) sehingga dunia usaha dapat terbantu.
Untuk MNC Bank sendiri, SBDK MNC Bank secara bank wide turun dari 12,99% per Februari 2020 menjadi 12,53% per Maret 2020. "Hal tersebut tentu membantu debitur kami baik produktif maupun konsumtif," ujar Mahdan hari ini di Jakarta.
Dengan penurunan rate tersebut dan berbagai insentif kebijakan regulator, kelancaran dan kualitas kredit tetap bisa terjaga. Dengan stimulus countercyclical COVID-19 yang dikeluarkan OJK sebagai landasan relaksasi kredit bagi usaha yang terdampak, ekonomi tetap bergerak meski di kondisi pandemi.
Namun, selain memberikan relaksasi sesuai regulasi, perbankan seperti MNC Bank juga menggiatkan pengawasan kredit untuk menjaga kualitas kredit. Relaksasi pun tidak serta merta, namun diberikan sesuai kasus per kasus yang memaksimalkan potensi ekonomi baik bagi debitur maupun bank.
Lihat Juga :