Thrifting di Indonesia Meroket hingga 30%, Produsen Pakaian Lokal Terancam
Jum'at, 31 Maret 2023 - 22:26 WIB
loading...
Menjamurnya pakaian bekas impor banyak dikeluhkan para pengusaha tekstil dan industri terkait lainnya di Indonesia. Foto/MPI/Advenia Elisabeth
A
A
A
JAKARTA - Menjamurnya pakaian bekas impor banyak dikeluhkan para pengusaha tekstil dan industri terkait lainnya di Indonesia. Pasalnya, maraknya baju ilegal tersebut turut menggerus produksi pakaian lokal.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (Apsyfi), Redma Gita Wiraswasta mengatakan, pakaian bekas sebetulnya sudah ada sejak lama, kemudian semakin booming di tiga tahun terakhir.
Berdasarkan catatannya, sebelum fesyen thrifting ini booming di kalangan anak muda, perkembangan baju second impor di Indonesia pada tahun 2018 ke belakang hanya 5-10%.
Namun, sejak 2020-2022 meningkat menjadi 30% secara tahunan. Hal itulah yang mengakibatkan produk lokal jadi sulit bersaing di negeri sendiri.
"Terkait perkembangan pakaian bekas ini sebetulnya pakaian bekas ini sudah lama tapi sejak tiga tahun terakhir ini makin membooming. Kalau dilihat dari perkembangan, kita bicara 2018 ke belakang itu mungkin meningkat di kisaran 5-10%. Sekarang sudah sampai 30%. Ini sudah sangat sangat mengganggu kita," ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Mercure, Jakarta, Jumat (31/3/2023).
Baca juga: Temui 2.000 Pedagang Pakaian Bekas, Mendag: Boleh Dagang Sampai Stok Barang Habis
Redma menuturkan, kala itu baju bekas impor hanya dijual ditoko-toko tertentu seperti Cibadak Mal atau Cimol yang berlokasi di Bandung.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (Apsyfi), Redma Gita Wiraswasta mengatakan, pakaian bekas sebetulnya sudah ada sejak lama, kemudian semakin booming di tiga tahun terakhir.
Berdasarkan catatannya, sebelum fesyen thrifting ini booming di kalangan anak muda, perkembangan baju second impor di Indonesia pada tahun 2018 ke belakang hanya 5-10%.
Namun, sejak 2020-2022 meningkat menjadi 30% secara tahunan. Hal itulah yang mengakibatkan produk lokal jadi sulit bersaing di negeri sendiri.
"Terkait perkembangan pakaian bekas ini sebetulnya pakaian bekas ini sudah lama tapi sejak tiga tahun terakhir ini makin membooming. Kalau dilihat dari perkembangan, kita bicara 2018 ke belakang itu mungkin meningkat di kisaran 5-10%. Sekarang sudah sampai 30%. Ini sudah sangat sangat mengganggu kita," ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Mercure, Jakarta, Jumat (31/3/2023).
Baca juga: Temui 2.000 Pedagang Pakaian Bekas, Mendag: Boleh Dagang Sampai Stok Barang Habis
Redma menuturkan, kala itu baju bekas impor hanya dijual ditoko-toko tertentu seperti Cibadak Mal atau Cimol yang berlokasi di Bandung.
Lihat Juga :