PGE Siap Optimalkan Sumber Pendapatan Baru dari Carbon Credit
Sabtu, 01 April 2023 - 00:19 WIB
loading...
A
A
A
Dijelaskan, beberapa program ESG PGE yang sudah berjalan di antaranya adalah program keanekaragaman hayati Pusat Konservasi Elang, khususnya spesies Elang Jawa di Kawasan Kamojang, Penangkaran Domba Garut, Konservasi Bunga Krisan, Penangkaran Kambing Saburai, dan Konservasi Kera Jambul Sulawesi (Yaki). Selain itu, PGE juga merehabilitasi kawasan hutan sebesar 588 ha dan melakukan upaya reboisasi secara masif.
Di luar itu, PGE juga berkomitmen mengembangkan komunitas melalui program Kamojang Digital Village yang dengan program aplikasi Digital Ranger Apps yang bertujuan untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekitar dan layanan WiFi pohon "Signal Kita". Melalui program-program itu, komitmen ESG PGE dirasakan langsung manfaatnya dalam mendukung kelestarian lingkungan dan ekonomi sirkular melalui koneksi internet berbayar menggunakan sampah atau dengan menanam pohon. Selain itu, PGE juga menjalankan Emergency Response Group Millennials (ERMi), yaitu program pemberdayaan masyarakat di area Ulubelu yang berfokus pada penanggulangan bencana dan lingkungan, seperti pemasangan pendeteksi tanah longsor.
Baca Juga: Terbesar Kedua di Dunia, Indonesia Punya Potensi Panas Bumi 24.000 Mega Watt
Pemanfaatan panas bumi untuk hidrogen hijau merupakan peluang potensial di masa depan. Di banyak negara, PLTP dipakai sebagai penghasil sumber listrik untuk memproduksi hidrogen melalui proses elektrolisis untuk berbagai keperluan. Dua di antaranya adalah untuk sektor transportasi dan petrokimia, dimana kedepannya hidrogen hijau dipercaya akan menjadi game changer untuk mencapai dekarbonisasi.
Pada kesempatan yang sama, pengamat energi Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa peluang industri panas bumi dalam mendukung ketahanan energi dan pelaksanaan kebijakan transisi energi di Indonesia cukup besar. Pembangkit panas bumi, kata dia, adalah pembangkit berbasis energi terbarukan yang dapat dijadikan sebagai pembangkit base load. Biaya operasionalnya pun terbilang murah. Di sisi lain, potensi panas bumi Indonesia terbilang sebagai salah satu yang terbesar di dunia, mencapai 24.000 MW.
Di luar itu, PGE juga berkomitmen mengembangkan komunitas melalui program Kamojang Digital Village yang dengan program aplikasi Digital Ranger Apps yang bertujuan untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekitar dan layanan WiFi pohon "Signal Kita". Melalui program-program itu, komitmen ESG PGE dirasakan langsung manfaatnya dalam mendukung kelestarian lingkungan dan ekonomi sirkular melalui koneksi internet berbayar menggunakan sampah atau dengan menanam pohon. Selain itu, PGE juga menjalankan Emergency Response Group Millennials (ERMi), yaitu program pemberdayaan masyarakat di area Ulubelu yang berfokus pada penanggulangan bencana dan lingkungan, seperti pemasangan pendeteksi tanah longsor.
Baca Juga: Terbesar Kedua di Dunia, Indonesia Punya Potensi Panas Bumi 24.000 Mega Watt
Pemanfaatan panas bumi untuk hidrogen hijau merupakan peluang potensial di masa depan. Di banyak negara, PLTP dipakai sebagai penghasil sumber listrik untuk memproduksi hidrogen melalui proses elektrolisis untuk berbagai keperluan. Dua di antaranya adalah untuk sektor transportasi dan petrokimia, dimana kedepannya hidrogen hijau dipercaya akan menjadi game changer untuk mencapai dekarbonisasi.
Pada kesempatan yang sama, pengamat energi Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa peluang industri panas bumi dalam mendukung ketahanan energi dan pelaksanaan kebijakan transisi energi di Indonesia cukup besar. Pembangkit panas bumi, kata dia, adalah pembangkit berbasis energi terbarukan yang dapat dijadikan sebagai pembangkit base load. Biaya operasionalnya pun terbilang murah. Di sisi lain, potensi panas bumi Indonesia terbilang sebagai salah satu yang terbesar di dunia, mencapai 24.000 MW.
Lihat Juga :