Kekhawatiran atas Kebangkrutan 3 Bank di AS Tak Perlu Ditanggapi

Senin, 03 April 2023 - 10:40 WIB
loading...
Kekhawatiran atas Kebangkrutan...
bangkrutnya 3 bank di AS tak akan terlalu berdampak ke Indonesia. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Pengamat kebijakan publik, Bambang Haryo Soekartono, menilai pernyataan kecemasan sejumlah kalangan tentang bangkrutnya tiga bank di Amerika Serikat , yaitu Sillicon Valley Bank (SVB), Signature Bank, dan Silvergate Bank akan mengakibatkan krisis di Amerika tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Pasalnya, kondisi ekonomi di Amerika saat ini tidak dalam keadaan krisis malahan cenderung membaik.

Baca juga: Dirut BRI Ungkap Penyebab Silicon Valley Bank Bisa Bangkrut

Menurut anggota DPR-RI periode 2014-2019 ini, berdasarkan data, Silicon Valley Bank (SVB) adalah bank yang mempunyai urutan 16 terbesar di Amerika, Signature Bank urutan ke-29, dan Silvergate Bank urutan ke-113.

Sehingga kebangkrutan ke-3 bank di Amerika tersebut pengaruhnya sangat kecil dan relatif tidak ada bagi perekonomian di Amerika karena dari data 2022 jumlah keseluruhan bank di Amerika ada sebanyak 4.844 bank yang sebagian besar justru mengalami peningkatan pendapatan di 2022 dibanding 2019 sebelum Covid-19.

Sebagai contoh bank terbesar nomor 1 di Amerika, yaitu JP Morgan Chase & Co mempunyai pendapatan tahunan (Annual Revenue) di 2022 sebesar USD154,792 miliar yang naik signifikan dari 2019 sebelum Covid-19 sebesar USD142,515 miliar.

Sedangkan bank pada urutan nomor 2 terbesar di Amerika yaitu Bank of America jumlah pendapatan tahunannya juga mengalami kenaikan sebesar USD115,053 miliar di 2022 dibanding pendapatan tahunan pada 2019 sebesar USD113,589 miliar.

Pria yang akrab disapa BHS menambahkan, bahkan pertumbuhan ekonomi di Amerika pun juga mengalami kenaikan signifikan di 2022 sebesar 2,7% dari 2019 yang hanya sebesar 2,2%.

Apalagi beberapa negara ASEAN bahkan Eropa juga mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan misalnya Vietnam di 2022 sebesar 8,02%, naik cukup tinggi dibanding 2019 sebelum covid sebesar 7,02%. Malaysia juga mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di 2022 sebesar 8,7% dari 2019 yang hanya sebesar 4,41%.

Bahkan pertumbuhan ekonomi Malaysia di 2022 merupakan yang tertinggi selama kurun waktu 22 tahun semenjak 2000. Filipina pertumbuhan ekonominya naik pesat di 2022 sebesar 7,6% dari 2019 sebesar 6,12% bahkan negara Eropa seperti Inggris mengalami pertumbuhan ekonomi luar biasa tinggi sebesar 4,1% di 2022 dibandingkan 2019 yang hanya sebesar 1,6%.

"Saya sangat mengharapkan kekhawatiran pejabat publik dan berita-berita yang ada di media tidak perlu diekspos besar-besaran ke masyarakat karena ini tentu akan berdampak terhadap stagnasi dan perlambatan ekonomi akibat pelaku usaha enggan berinvestasi dan bahkan masyarakat enggan berbelanja," ujarnya, Senin (3/4/2023).

BHS mengapresiasi kebijakan pemerintah Jepang dalam memulihkan kondisi ekonomi dengan mengeluarkan kebijakan yang mendorong masyarakatnya untuk berbelanja dan berwisata dengan memberikan insentif yang disebut Community Development Certificate kepada masyarakatnya yang mau travelling dan berbelanja guna menumbuhkan ekonomi pasca Covid-19, sehingga ekonomi di Jepang saat ini lebih membaik dibanding 2019 sebelum Covid-19.

Baca juga: 7 Benda Keramat Paling Diburu Karakter Baik dan Jahat di Anime

"Dan ini sebetulnya seiring dengan apa yang pernah Presiden Jokowi sampaikan agar masyarakat beramai-ramai berbelanja, nonton konser dan berwisata guna menumbuhkan ekonomi pasca Covid-19," ucapnya.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel
FIFA Larang Suporter...
FIFA Larang Suporter Iran Bawa Bendera Pra-Revolusi di Piala Dunia 2026
Rekomendasi
4 Fakta Memalukan Keluarga...
4 Fakta Memalukan Keluarga Kerajaan Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara karena Pemerkosaan
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Maxi Araujo Selamatkan Uruguay dari Kejutan Arab Saudi
FIFA: Gestur Kontroversial...
FIFA: Gestur Kontroversial Asisten Wasit VAR Tak Langgar Aturan
Berita Terkini
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Ini Prinsip Dasar Manajemen...
Ini Prinsip Dasar Manajemen Risiko yang Wajib Dipahami Setiap Trader Forex
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
Hasil Seleksi Pelatihan...
Hasil Seleksi Pelatihan Vokasi Batch 2 Diumumkan 18 Juni 2026, Begini Cara Aksesnya
Harga Tiket Whoosh Pakai...
Harga Tiket Whoosh Pakai Skema Dinamis Sambut Libur Sekolah Plus Long Weekend, Termurah Rp250 Ribu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved