alexa snippet

Outlook Ekonomi-Bisnis

Menanti Gebrakan Relawan Jokowi di Singgasana BUMN

Menanti Gebrakan Relawan Jokowi di Singgasana BUMN
Penunjukan relawan Presiden Jokowi di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menuai pro dan kontra. Foto: Grafis
A+ A-
PENUNJUKAN orang-orang dekat atau relawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menuai pro dan kontra. Keilmuan dan penguasaan bidang yang digeluti seharusnya menjadi pertimbangan dalam memilih orang-orang yang tepat di jajaran komisaris dan direksi perusahaan pelat merah.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negeri (BUMN) Bersatu Arief Poyuono menilai, perusahaan BUMN akan dikelola secara tidak profesional jika di dalamnya diisi para relawan Jokowi yang tidak kompeten. Termasuk mereka yang berada di singgasana dewan komisaris.

"Ke depan saya lihat tidak akan dikelola oleh para profesional. Artinya, mereka tidak membidangi secara benar dari penempatan mereka di jajaran komisaris BUMN tersebut," ujarnya, Sabtu (26/12/2015).

Menurutnya, tahun depan tidak akan ada perubahan signifikan dari ditunjuknya beberapa relawan yang menjabat komisaris perusahaan pelat merah. Mereka dinilai hanya sekadar mengincar materi.

"Tak pernah ada yang signifikan kepada BUMN. Mereka cuma jadi sekadar dapat penghasilan. Gaji komisaris BUMN rata-rata di atas Rp30 juta, sepertiga gaji direksi," kata dia.

Arief mengatakan, praktik bagi-bagi kekuasaan ini membuat perusahaan milik negara tidak akan ada kemajuan ke depannya. Sebab, kursi komisaris merupakan posisi krusial.

"Sampai kapanpun seperti ini tidak berikan kemajuan, di Singapura, Malaysia, menempatkan komisaris yang benar-benat ahli. Komisaris di BUMN penting, kalau di swasta, punya dia sendiri, kalau ini punya negara harus diawasi dengan baik," tuturnya.

Jika ingin maju, lanjut Arief, Jokowi harus bisa menempatkan para profesional di posisi strategis BUMN seperti komisaris. Selain itu, juga sebaiknya dilakukan tes terlebih dahulu.

"Kalau mau BUMN jadi roda perekonomian Indonesia lebih baik, ya Jokowi harus tempatkan profesional. Ke depan yang penting harus ada seleksi serta fit and proper test seperti BUMN perbankan, kalau yang lain tidak ada," jelasnya.

Tercatat, para relawan Jokowi ketika mengikuti Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun lalu kini berada di singgasana komisaris perusahaan BUMN. Kabar terhangat datang dari Dyah Kartika Rini Djoemadi yang ditunjuk sebagai komisaris independen PT Danareksa.

Relawan cantik ini resmi menggenggam jabatan barunya mulai 27 Oktober 2015 sesuai dengan SK Nomor SK-204/MBU/10/2015. Satu demi satu orang dekat Presiden Jokowi mendapatkan jatah kursi di perusahaan milik pemerintah.

"Ibu Dyah Kartika Rini diangkat sebagai komisaris PT Danareksa pada 27 Oktober 2015," ujar Corporate Secretary Danareksa Fattah Hidayat melalui pesan singkat kepada Sindonews di Jakarta belum lama ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Sindonews, Dyah pernah menjadi relawan Jokowi ketika terjun dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Tim sukes yang bergerak di bidang media sosial tersebut kembali memberikan dukungannya ketika mantan wali kota Solo itu mengikuti Pilpres 2014.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top