Penjualan Mobil Tak Bakal Bisa Ngegas Seperti Tahun Lalu
Senin, 20 Juli 2020 - 20:23 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut dia juga mengingatkan data industri otomotif per Juni 2020 yang menyebut mulai ada kenaikan penjualan otomotif. Menurutnya angka tersebut tidak menunjukkan kondisi sebenarnya. Data tersebut merupakan akumulasi dari kondisi awal tahun yang masih relatif normal.
"Data tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi riil karena dihitung sejak awal tahun. Kondisi terparah sejak Maret hingga Juni 2020. Hingga akhir tahun ini volume penjualan di kisaran hanya 500-550 ribu unit ," ujarnya.
Lebih jauh dia juga memperkirakan pemulihan industri otomotif hanya akan maksimal hingga 70% dari keadaan sebelum pandemi. Selain daya beli masyarakat menurun juga ditambah aktivitas ekspor otomotif yang sangat menantang. Ini akibat negara lain juga mengalami kondisi yang sama bahkan lebih parah. (Baca juga: Jokowi Resmi Bentuk Tim Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Covid-19, Dipimpin Erick Thohir)
Selain itu, dia juga mengingatkan meskipun pemerintah berusaha memberikan restrukturisasi di industri jasa keuangan, tapi tetap saja tidak akan menjadikan itu maksimal. Ada tantangan lainnya yaitu kondisi perusahaan pembiayaan yang tidak sedikit dalam kondisi sakit.
"Walaupun ada restrukturisasi di perusahaan jasa keuangan tapi masalahnya tidak semua perusahaan pembiayaan itu sehat. Sedangkan masyarakat melakukan aktivitas pembelian mayoritas dari kredit. Tapi perusahaan pembiayaan juga bermasalah," ujarnya.
Direktur Sales dan Distribusi Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo mengakui industri otomotif masih bergantung pada segmen menengah atas. Kebutuhan kendaraan bermotor menurut dia masih terus ada.
"Potensi kelas menengah masih baik walau jauh dari kondisi normal sebelumnya. Masih ada kebutuhan kendaraan bermotor," ujar Harjanto.
"Data tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi riil karena dihitung sejak awal tahun. Kondisi terparah sejak Maret hingga Juni 2020. Hingga akhir tahun ini volume penjualan di kisaran hanya 500-550 ribu unit ," ujarnya.
Lebih jauh dia juga memperkirakan pemulihan industri otomotif hanya akan maksimal hingga 70% dari keadaan sebelum pandemi. Selain daya beli masyarakat menurun juga ditambah aktivitas ekspor otomotif yang sangat menantang. Ini akibat negara lain juga mengalami kondisi yang sama bahkan lebih parah. (Baca juga: Jokowi Resmi Bentuk Tim Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Covid-19, Dipimpin Erick Thohir)
Selain itu, dia juga mengingatkan meskipun pemerintah berusaha memberikan restrukturisasi di industri jasa keuangan, tapi tetap saja tidak akan menjadikan itu maksimal. Ada tantangan lainnya yaitu kondisi perusahaan pembiayaan yang tidak sedikit dalam kondisi sakit.
"Walaupun ada restrukturisasi di perusahaan jasa keuangan tapi masalahnya tidak semua perusahaan pembiayaan itu sehat. Sedangkan masyarakat melakukan aktivitas pembelian mayoritas dari kredit. Tapi perusahaan pembiayaan juga bermasalah," ujarnya.
Direktur Sales dan Distribusi Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo mengakui industri otomotif masih bergantung pada segmen menengah atas. Kebutuhan kendaraan bermotor menurut dia masih terus ada.
"Potensi kelas menengah masih baik walau jauh dari kondisi normal sebelumnya. Masih ada kebutuhan kendaraan bermotor," ujar Harjanto.
Lihat Juga :