Pedasnya Bisnis Sambal Mampu Bertahan di Era New Normal

Senin, 20 Juli 2020 - 23:44 WIB
loading...
Pedasnya Bisnis Sambal...
Inilah yang menarik minat Yansen Gunawan untuk membuat Eatsambel, sehingga para pecinta makanan pedas tidak perlu lagi repot-repot menyiapkan sendiri di dapur. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Indonesia dikenal dengan berbagai sajian kuliner khas yang kaya rasa dan unik. Salah satu makanan yang hampir tidak pernah ketinggalan disajikan adalah sambal. Rasanya tidak lengkap jika tidak ada sambal sebagai pelengkap di setiap menu makanan, atau ketika ada makanan enak tetapi sambalnya tidak enak.

Sambal pun bisa menjadi “obat kangen” masakan Indonesia ketika di luar negeri, yang biasanya tidak menyediakan sambal. Apalagi orang Indonesia biasanya suka sambal rumahan yang baru saja diulek dan dengan bahan-bahan segar.

(Baca Juga: Sri Mulyani Ajak Pejuang Ekonomi Tetap Semangat )

Inilah yang menarik minat Yansen Gunawan untuk membuat Eatsambel, sehingga para pecinta makanan pedas tidak perlu lagi repot-repot menyiapkan sendiri di dapur. Setiap varian rasa yang dikeluarkan Eatsambel pun tidak sembarangan, tetapi melalui riset panjang untuk memastikan rasanya sangat enak.

"Sambal itu seperti makanan yang sudah lama, tapi saya ingin memadukan cita rasa dengan perkembangan teknologi digital saat ini. Sehingga saya mau Eatsambel bisa hits dan terkenal di segala kalangan, dari anak muda hingga orangtua," kata CEO & Co-Founder Eatsambel, Yansen dalam keterangan resminya.
Pedasnya Bisnis Sambal Mampu Bertahan di Era New Normal


Banyak orang Indonesia yang menggemari sambal, namun tidak semuanya bisa membuat sambal yang enak. Inilah yang membulatkan tekad Yansen untuk membuat sambal sesuai cita rasa orang Indonesia, dan membesarkan Eatsambel agar masyarakat Indonesia bisa tetap makan enak dalam kondisi apapun.

Pembuatan setiap produknya pun tidak sembarangan, melalui banyak proses dan survei hingga hadirlah tiga varian rasa. Awalnya Yansen dan partner bisnisnya memberikan sambal secara gratis ke teman ataupun keluarga. Setelah mendapatkan respon yang sangat baik, barulah Eatsambel mencoba jualan dengan fokus merambah pasar online.

(Baca Juga: Cara Instan Kemenaker Ciptakan Wirausahawan Tangguh )

"Berawal dengan foto konten produk yang bagus, lalu saya mulai memasarkannya ke media sosial seperti Instagram dan juga menaruhnya di marketplace," cerita Yansen.

Yansen meyakini dalam bisnis kuliner, yang dibutuhkan bukan hanya rasa yang enak, melainkan juga branding produk itu sendiri. Untuk itu, ia pun memanfaatkan platform online untuk mendukung bisnisnya dan menjangkau minat konsumen terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

Eatsambel juga memberikan promosi dan potongan harga untuk mendukung masyarakat Indonesia, yang tengah menjalani banyak kegiatan di rumah di saat pandemi. Alhasil, Eatsambel pun tetap bertahan di antara bisnis kuliner lain yang berguguran.

"Kami melakukan promosi dan tetap produksi karena saya yakin bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang tertekan dengan di rumah saja tanpa bisa bepergian, makan di luar, sehingga Eatsambel harus tetap siap menemani mereka," katanya.

Pedasnya Bisnis Sambal Mampu Bertahan di Era New Normal


Lulusan DKV ini semula juga khawatir banyak karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Akan tetapi minat masyarakat yang besar terhadap produknya membuatnya berkomitmen untuk harus tetap bisa menggaji karyawannya.

Dengan adanya adaptasi kenormalan baru (new normal), dia optimis bisnisnya ikut membaik karena masyarakat bisa kembali beraktivitas dan memiliki pendapatan. Dengan begitu daya beli masyarakat meningkat hingga bisa menghidupkan UMKM yang semula tertekan.

Potensi ini juga mendorong Eatsambel berinovasi membuat sambal yang paling update. Dibandingkan produk lainnya, Eatsambel bahkan berani memberikan garansi 100% uang kembali apabila rasanya tidak enak. Meski hanya dianggap pelengkap makanan, Eatsambel tetap disajikan dan dikemas dengan kualitas premium. Yansen menargetkan bisa mendistribusikan Eatsambel ke seluruh Indonesia dan menjadikannya “sambal khas Indonesia” yang terbaik.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Buka Akses Pasar Lebih...
Buka Akses Pasar Lebih Luas, Pertamina Fasilitasi UMKM Binaan di Jakarta Fair
Revisi UU Hak Cipta...
Revisi UU Hak Cipta Dikhawatirkan Bebani UMKM hingga Startup
Penyaluran Pindar Tembus...
Penyaluran Pindar Tembus Rp1.388 Triliun, 40% Mengalir ke UMKM
Bukan Sekadar Bisnis,...
Bukan Sekadar Bisnis, Sektor Keuangan Mikro Integrasikan Kelestarian Alam ke Dalam Ekosistem UMKM
Penjelasan soal Aturan...
Penjelasan soal Aturan Tarif PPh Final 0,5% Kini Khusus buat UMKM
Dari Keinginan Bahagiakan...
Dari Keinginan Bahagiakan Orang Tua, Lahir Warung Irine Gresik
Ribuan Penonton Final...
Ribuan Penonton Final PFL 2026 Ciptakan Peluang Ekonomi bagi Pengusaha Ultra Mikro
Makin Dicintai Dunia,...
Makin Dicintai Dunia, Batik Ramah Lingkungan Asal Semarang Sukses Mendunia lewat LinkUMKM BRI
Rekomendasi
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
BTS Rilis Spotify Music...
BTS Rilis Spotify Music Video Merry Go Round dari Album ARIRANG, Tayang 19 Juni
Wakili Kaum Muda, Joshua...
Wakili Kaum Muda, Joshua SEVENTEEN Akan Berpidato di Markas UNESCO Paris
Berita Terkini
NHM Raih PROPER Biru...
NHM Raih PROPER Biru KLHK, Tegaskan Komitmen terhadap Pengelolaan Lingkungan yang Taat dan Berkelanjutan
JRP Insurance Hadir...
JRP Insurance Hadir di Jakarta Fair 2026, Jamin Perlindungan Asuransi bagi Pengunjung
Ketika Sampah Menjadi...
Ketika Sampah Menjadi Sumber Daya, Strategi Sirkular Lippo Karawaci
IFG Life Bayarkan Klaim...
IFG Life Bayarkan Klaim Asuransi Kredit Nasabah Bank Sulselbar
AS-Iran Berdamai, Harga...
AS-Iran Berdamai, Harga Minyak Terjun Bebas ke Bawah USD80 per Barel
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp4.000 per Gram, Simak Rinciannya
Infografis
Perang lawan Rusia,...
Perang lawan Rusia, Ukraina hanya Mampu Bertahan 15 Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved