Waspadai Euforia Saham Farmasi Dampak dari Uji Klinis Vaksin Covid-19
Kamis, 23 Juli 2020 - 09:11 WIB
loading...
A
A
A
Tidak saja terjadi pada Indofarma dan Kimia Farma, saham-saham emiten farmasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) lainnya pun mendadak kejatuhan cuan karena mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Hal tersebut diungkapkan Head of Research MNC Sekuritas Edwin Sebayang.
Menurut Edwin, kenaikan saham farmasi lebih disebabkan adanya momentum. Ditambah lagi ada sentimen positif karena vaksin dikabarkan siap diproduksi massal. “Jadi ini lebih pada momentum dan lebih pada sentimen,” ujarnya di Jakarta kemarin. (Baca juga: 3 Pegawai Positif Covid-19, Kantor Pusat RRI Lockdown)
Dirasa wajar jika saham farmasi naik begitu cepat ketika vaksin sedang diuji coba. Pasalnya Indonesia menjadi pasar yang cukup besar jika nantinya vaksin ini dijualbelikan. “Hanya karena vaksin dan Indonesia kan sebagai pangsa pasar yang besar sehingga dengan adanya uji coba tersebut dan memang market kita besar, nanti bisa mendorong kenaikan kinerja dari emiten tersebut,” jelasnya.
Saham-saham farmasi ini bisa menjadi alternatif pilihan bagi investor pasar modal. Apalagi saham-saham ini mendadak mengalami kenaikan setelah pengumuman uji klinis vaksin korona. Meski demikian, bagi investor yang hendak membeli saham farmasi, disarankan secara short term atau harian. Pasalnya saham-saham farmasi mengalami kenaikan cukup tinggi. “Trading bisa melakukan buying, tapi short term atau day trade karena kan naiknya gila-gilaan. 20%, 24% auto-reject,” kata Edwin.
Alasan mengapa transaksi dilakukan secara harian, karena euforia saham ini diprediksi hanya hingga pekan depan. Sebab valuasinya sudah terlalu cepat dan sudah sangat tinggi. Ditambah lagi vaksin ini baru di tahap uji coba dan belum diketahui tingkat keberhasilannya. Produksinya juga baru akan dilakukan pada tahun depan dan bukan tahun ini. (Baca juga: Ini Fakta Menarik Vaksin Buatan Oxford yang Menunjukan Hasil Menjanjikan)
Menurut Edwin, kenaikan saham farmasi lebih disebabkan adanya momentum. Ditambah lagi ada sentimen positif karena vaksin dikabarkan siap diproduksi massal. “Jadi ini lebih pada momentum dan lebih pada sentimen,” ujarnya di Jakarta kemarin. (Baca juga: 3 Pegawai Positif Covid-19, Kantor Pusat RRI Lockdown)
Dirasa wajar jika saham farmasi naik begitu cepat ketika vaksin sedang diuji coba. Pasalnya Indonesia menjadi pasar yang cukup besar jika nantinya vaksin ini dijualbelikan. “Hanya karena vaksin dan Indonesia kan sebagai pangsa pasar yang besar sehingga dengan adanya uji coba tersebut dan memang market kita besar, nanti bisa mendorong kenaikan kinerja dari emiten tersebut,” jelasnya.
Saham-saham farmasi ini bisa menjadi alternatif pilihan bagi investor pasar modal. Apalagi saham-saham ini mendadak mengalami kenaikan setelah pengumuman uji klinis vaksin korona. Meski demikian, bagi investor yang hendak membeli saham farmasi, disarankan secara short term atau harian. Pasalnya saham-saham farmasi mengalami kenaikan cukup tinggi. “Trading bisa melakukan buying, tapi short term atau day trade karena kan naiknya gila-gilaan. 20%, 24% auto-reject,” kata Edwin.
Alasan mengapa transaksi dilakukan secara harian, karena euforia saham ini diprediksi hanya hingga pekan depan. Sebab valuasinya sudah terlalu cepat dan sudah sangat tinggi. Ditambah lagi vaksin ini baru di tahap uji coba dan belum diketahui tingkat keberhasilannya. Produksinya juga baru akan dilakukan pada tahun depan dan bukan tahun ini. (Baca juga: Ini Fakta Menarik Vaksin Buatan Oxford yang Menunjukan Hasil Menjanjikan)
Lihat Juga :