Waspadai Euforia Saham Farmasi Dampak dari Uji Klinis Vaksin Covid-19
Kamis, 23 Juli 2020 - 09:11 WIB
loading...
Foto: dok/Antara
A
A
A
JAKARTA - Uji klinis vaksin Covid-19 langsung menggenjot harga saham-saham emiten farmasi , terutama PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma (INAF) yang naik hampir 100% dalam waktu kurang dari sebulan. Euforia ini harus diwaspadai pelaku pasar dari aksi ambil untung (profit taking).
Proses dan protokol fase uji klinis vaksin Covid-19 produksi Sinovac Biotech, Ltd asal China yang telah tiba di Indonesia akan mendapatkan pendampingan ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nantinya vaksin tersebut akan diujicobakan pada sejumlah sampel di Tanah Air. Apabila dinyatakan lolos, BPOM akan mempercepat pemberian izin edarnya.
Jika uji klinis tahap ketiga ini berhasil, produksinya akan dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero) yang ditargetkan terealisasi pada awal tahun depan. Berdasarkan laporan perseroan, Bio Farma akan memproduksi vaksin ini dengan kapasitas 100 juta dosis per tahun, bahkan bisa ditingkatkan jadi 250 juta dosis. (Baca: Pandemi Bikin Industri Farmasi dan Alkes Masuk Making 4.0)
Kabar ini tentu saja mengerek harga saham dua anak usaha Bio Farma, yaitu PT Kimia Farma (KAEF) dan PT Indofarma (INAF). Seperti diketahui, kepemilikan Bio Farma pada saham KAEF sebesar 90,03% dan sisanya 9,97% dimiliki publik. Adapun kepemilikan Bio Farma pada saham INAF adalah sebesar 80,68%, 13,91% Asabri, dan sisanya 5,4% milik publik.
Jika kita menelisik, pergerakan harga saham KAEF dan INAF melonjak hampir 100% dalam tempo kurang dari sebulan. Pada 1 Juli nilai harga saham Indofarma diperdagangkan pada kisaran Rp985 per saham, tetapi kemarin emiten dengan kode saham INAF tersebut tembus hingga Rp1.880 per saham. Begitu pula dengan saham KAEF yang melesat dari Rp1.100 pada awal Juli menjadi Rp2.140 per saham.
Proses dan protokol fase uji klinis vaksin Covid-19 produksi Sinovac Biotech, Ltd asal China yang telah tiba di Indonesia akan mendapatkan pendampingan ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nantinya vaksin tersebut akan diujicobakan pada sejumlah sampel di Tanah Air. Apabila dinyatakan lolos, BPOM akan mempercepat pemberian izin edarnya.
Jika uji klinis tahap ketiga ini berhasil, produksinya akan dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero) yang ditargetkan terealisasi pada awal tahun depan. Berdasarkan laporan perseroan, Bio Farma akan memproduksi vaksin ini dengan kapasitas 100 juta dosis per tahun, bahkan bisa ditingkatkan jadi 250 juta dosis. (Baca: Pandemi Bikin Industri Farmasi dan Alkes Masuk Making 4.0)
Kabar ini tentu saja mengerek harga saham dua anak usaha Bio Farma, yaitu PT Kimia Farma (KAEF) dan PT Indofarma (INAF). Seperti diketahui, kepemilikan Bio Farma pada saham KAEF sebesar 90,03% dan sisanya 9,97% dimiliki publik. Adapun kepemilikan Bio Farma pada saham INAF adalah sebesar 80,68%, 13,91% Asabri, dan sisanya 5,4% milik publik.
Jika kita menelisik, pergerakan harga saham KAEF dan INAF melonjak hampir 100% dalam tempo kurang dari sebulan. Pada 1 Juli nilai harga saham Indofarma diperdagangkan pada kisaran Rp985 per saham, tetapi kemarin emiten dengan kode saham INAF tersebut tembus hingga Rp1.880 per saham. Begitu pula dengan saham KAEF yang melesat dari Rp1.100 pada awal Juli menjadi Rp2.140 per saham.
Lihat Juga :