Pakai Aplikasi Digital, UMKM Pengolah Ikan Lebih Disiplin Kelola Keuangan
Senin, 29 Mei 2023 - 21:04 WIB
loading...
A
A
A
“Dengan aplikasi ini, anggota kami jadi semakin disiplin untuk melunasi pinjaman tepat waktu. Sebab, kalau terlambat ada denda, misal untuk pinjaman Rp100 juta dendanya Rp100.000 per hari,” tuturnya.
Selain itu, anggota kelompok menjadi lebih kompak untuk bersama melunasi pinjaman dana talangan PARI. Dengan aplikasi PARI, Muhidi mengaku lebih mudah mengetahui siapa saja anggotanya yang sudah lunas membayar dan yang belum.
“Aplikasi ini membantu kami lebih mudah mengetahui pembayaran yang dilakukan anggota. Dana talangan yang diberikan juga sangat membantu kami mendapatkan modal untuk menjalankan usaha pengolahan ikan pindang dan bandeng presto,” bebernya.
Baca juga: 3 Teknologi Digital yang Digunakan UMKM untuk Transaksi Non-Tunai
Muhidi dan kelompoknya biasa membeli ikan segar sebagai bahan baku, seperti ikan layang, cakalang, tongkol, dan deho. Mereka biasanya membeli ikan dari Bone, Kendari, atau Bitung (Sulawesi).
Kemudian ikan yang sudah dibeli disalurkan kepada anggota sesuai kebutuhan masing-masing. Muhidi yang juga jadi penjual pindang dan presto bandeng, rata-rata membutuhkan sekitar 50 kg ikan.
Dia bersama istrinya Sumiati (40), mengolah bahan baku ikan menjadi pindang dan presto, lalu dikemas dengan kotak atau plastik ukuran 1 kg. Untuk presto bandeng ukuran 1 kg harganya sekitar Rp20.000, sedangkan untuk pindang Rp10.000.
Selain itu, anggota kelompok menjadi lebih kompak untuk bersama melunasi pinjaman dana talangan PARI. Dengan aplikasi PARI, Muhidi mengaku lebih mudah mengetahui siapa saja anggotanya yang sudah lunas membayar dan yang belum.
“Aplikasi ini membantu kami lebih mudah mengetahui pembayaran yang dilakukan anggota. Dana talangan yang diberikan juga sangat membantu kami mendapatkan modal untuk menjalankan usaha pengolahan ikan pindang dan bandeng presto,” bebernya.
Baca juga: 3 Teknologi Digital yang Digunakan UMKM untuk Transaksi Non-Tunai
Muhidi dan kelompoknya biasa membeli ikan segar sebagai bahan baku, seperti ikan layang, cakalang, tongkol, dan deho. Mereka biasanya membeli ikan dari Bone, Kendari, atau Bitung (Sulawesi).
Kemudian ikan yang sudah dibeli disalurkan kepada anggota sesuai kebutuhan masing-masing. Muhidi yang juga jadi penjual pindang dan presto bandeng, rata-rata membutuhkan sekitar 50 kg ikan.
Dia bersama istrinya Sumiati (40), mengolah bahan baku ikan menjadi pindang dan presto, lalu dikemas dengan kotak atau plastik ukuran 1 kg. Untuk presto bandeng ukuran 1 kg harganya sekitar Rp20.000, sedangkan untuk pindang Rp10.000.
Lihat Juga :