Utang Pemerintah Tembus Rp3.429 Triliun Dibilang Masih Aman

Rabu, 01 Juni 2016 - 20:09 WIB
Utang Pemerintah Tembus...
Utang Pemerintah Tembus Rp3.429 Triliun Dibilang Masih Aman
A A A
JAKARTA - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengemukakan, bahwa utang pemerintah Indonesia pada kuartal I 2016 yang mencapai Rp3.429 triliun masih berada dalam posisi aman.

Posisi aman ini dinilai secara ekonomi maupun ketentuan regulasi yang telah ditetapkan.

Wakil Ketua KEIN, Arif Budimanta menuturkan, sampai April 2016 data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di angka 27%, atau jauh di bawah ketentuan yang ada dalam UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

"Regulasi tersebut menetapkan bahwa batas maksimum rasio utang terhadap PDB adalah 60%," katanya di Kantor KEIN, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Menurutnya, jika dibanding negara lain seperti Filipina, Malaysia dan Thailand maka rasio utang Indonesia terhadap PDB juga masih sangat rendah. Terlebih dengan negara maju yang rasio utangnya jauh lebih tinggi seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang berada di atas 100%.

"Cara paling baik melihat utang pemerintah itu tentu bukan nominalnya. Sehingga tidak terjadi sesat paham. Standar yang berlaku umum adalah dengan cara membandingkan utang dengan kemampuan kita membayar. Seperti ditunjukkan melalui rasio antara utang dengan PDB itu," imbuh dia.

Mantan anggota DPR RI ini menegaskan, utang pemerintah pada dasarnya diperlukan untuk membiayai defisit APBN, penyediaan arus kas jangka pendek, serta untuk refinancing utang lama. Terpenting, sambung dia, pengelolaan utang tersebut adalah untuk tujuan produktif.

Arif memberikan catatan, utang pemerintah harus dengan meminimalkan biaya utang dengan tingkat rasio yang semakin terkendali. Selain itu, menganut prinsip tidak ada agenda politik yang dipersyaratkan oleh pihak kreditor, serta mencari utang dengan persyaratan lunak, terutama dari multilateral dan kreditor bilateral.

Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), tambahnya, diutamakan berasal dari pasar dalam negeri dalam bentuk SBN rupiah. Hal ini dilakukan demi mewujudkan kemandirian dalam pembiayaan APBN. "Dengan begitu, pemerintah juga ikut membantu pengelolaan likuiditas pasar," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Utang Negara Harus Dimanfaatkan...
Utang Negara Harus Dimanfaatkan untuk Hal Produktif
Pemerintah Utamakan...
Pemerintah Utamakan Pembiayaan Dalam Negeri, Utang Luar Negeri Melambat
Duh, Beban Utang Pemerintah...
Duh, Beban Utang Pemerintah Sudah Sangat Mengkhawatirkan!
Utang Jatuh Tempo RI...
Utang Jatuh Tempo RI Tembus Rp3.749 T, Indef: Negara Bisa Stroke
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tembus Rp7.039 Triliun per April 2025
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia di Triwulan IV 2025 Naik Tembus Rp7.262 Triliun, Ini Porsi Terbesarnya
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
5 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
6 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
6 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
7 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
7 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
8 jam yang lalu
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved