Harmonisasi Sertifikasi Global dan Lokal Dukung Asal-usul Minyak Sawit Indonesia
Jum'at, 02 Juni 2023 - 15:45 WIB
loading...
Petani sawit kecil masih dihadapkan pada sejumlah masalah. Foto/YorriFarli/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Harmonisasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dapat mendukung traceability atau ketertelusuran minyak sawit Indonesia. Saat ini ada dua masalah utama dalam industri kelapa sawit Indonesia, yaitu status dan legalitas kepemilikan tanah, serta transformasi praktik petani kecil.
Baca juga: Perkuat Kolaborasi, Negara Produsen Minyak Sawit Dorong Ketahanan Pangan dan Energi Terbarukan
"RSPO, yang didirikan pada April 2004, merupakan sertifikasi berkelanjutan milik swasta untuk industri minyak sawit global. Sementara itu ISPO, yang diluncurkan pada 2011, merupakan sertifikasi pemerintah dengan dukungan kuat dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)," kata Mukhammad Faisol Amir, peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS), dalam keterangan tertulis, Jumat (2/6/2023).
Selain itu, lanjut Faisol, permasalahan lainnya meliputi adanya beberapa data yang berbeda dan perbedaan pada praktik perkebunan di Tanah Air. Petani kecil yang memiliki atau mengoperasikan hampir separuh lahan budidaya kelapa sawit di seluruh Nusantara juga memainkan peran yang sangat penting dalam transformasi industri melalui sertifikasi.
"Meskipun ISPO dan RSPO pada dasarnya memiliki pendekatan yang tidak terlalu berbeda dalam mengikutsertakan lebih banyak petani kecil dalam sertifikasi mereka, penerapannya di lapangan berbeda karena kemampuan auditor/surveyor dalam menginterpretasikan principles and criteria masing-masing," terangnya.
Baca juga: Perkuat Kolaborasi, Negara Produsen Minyak Sawit Dorong Ketahanan Pangan dan Energi Terbarukan
"RSPO, yang didirikan pada April 2004, merupakan sertifikasi berkelanjutan milik swasta untuk industri minyak sawit global. Sementara itu ISPO, yang diluncurkan pada 2011, merupakan sertifikasi pemerintah dengan dukungan kuat dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)," kata Mukhammad Faisol Amir, peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS), dalam keterangan tertulis, Jumat (2/6/2023).
Selain itu, lanjut Faisol, permasalahan lainnya meliputi adanya beberapa data yang berbeda dan perbedaan pada praktik perkebunan di Tanah Air. Petani kecil yang memiliki atau mengoperasikan hampir separuh lahan budidaya kelapa sawit di seluruh Nusantara juga memainkan peran yang sangat penting dalam transformasi industri melalui sertifikasi.
"Meskipun ISPO dan RSPO pada dasarnya memiliki pendekatan yang tidak terlalu berbeda dalam mengikutsertakan lebih banyak petani kecil dalam sertifikasi mereka, penerapannya di lapangan berbeda karena kemampuan auditor/surveyor dalam menginterpretasikan principles and criteria masing-masing," terangnya.
Lihat Juga :