Gelontorkan Rp22.500 Triliun, Separuh Jagat Berutang ke China

Kamis, 08 Juni 2023 - 16:19 WIB
loading...
Gelontorkan Rp22.500...
China menghabiskan puluhan ribu triliun untuk memberi utang ke banyak negara. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Selama dua dekade terakhir, China telah menjadi pemberi pinjaman global utama, dengan klaim yang beredar utang yang diberikan China melebihi 5% dari PDB global. Hampir semua pinjaman resmi itu berasal dari pemerintah dan entitas perusahaan yang dikendalikan Beijing.

Baca juga: Colombo Port City: Kawasan Ekonomi Sri Lanka atau Surga Pajak Milik China?

Melansir Harvard Business Review, Kamis (8/6/2023), China telah memberikan lebih banyak pinjaman ke negara-negara berkembang. Pelaporan pinjaman China yang kurang sistematis ini telah menciptakan masalah “utang tersembunyi".

"Negara-negara pengutang dan lembaga internasional sama-sama memiliki gambaran yang tidak lengkap tentang berapa banyak negara di dunia berutang kepada China dan dalam kondisi apa," tulis Harvard Business Review dalam penelitiannya yang berjudul "How Much Money Does the World Owe China?" yang dirilis pada 2020.

Secara total, China dan perusahaannya telah meminjamkan sekitar USD1,5 triliun atau Rp22.500 triliun (kurs Rp15.000) dalam bentuk pinjaman langsung dan kredit perdagangan ke lebih dari 150 negara di seluruh dunia, atau lebih dari separuh jumlah negara di dunia.

"Capaian" itu telah mengubah China menjadi kreditur resmi terbesar di dunia, bahkan melampaui pemberi pinjaman resmi tradisional seperti Bank Dunia, IMF, atau gabungan semua pemerintah kreditur OECD.

Aliran utang luar negeri China di seluruh dunia, termasuk hampir 2.000 pinjaman dan hampir 3.000 hibah sejak 1949 hingga 2017. Sebagian besar pinjaman China telah membantu membiayai investasi berskala besar di bidang infrastruktur, energi, dan pertambangan.

Hampir semua pinjaman China dilakukan oleh pemerintah dan berbagai badan usaha milik negara, seperti perusahaan publik dan bank umum. Ledakan pinjaman luar negeri China unik dibandingkan dengan arus keluar modal dari Amerika Serikat atau Eropa, yang sebagian besar didorong oleh swasta.

China cenderung meminjamkan pada persyaratan pasar, yang berarti pada suku bunga yang dekat dengan pasar modal swasta. Entitas resmi lainnya, seperti Bank Dunia, biasanya memberikan pinjaman dengan tingkat bunga lunak, di bawah pasar, dan jangka waktu yang lebih lama.

Selain itu, banyak pinjaman China yang didukung dengan agunan, artinya pembayaran utang dijamin dengan pendapatan, seperti yang berasal dari ekspor komoditas. Atau bisa juga dengan proyek-proyek yang dibantu pembangunannya.

Bahkan jaminan utang China itu dengan aset negara. Sri Lanka dan Uganda adalah dua negara yang harus merelakan asetnya diambil China lantaran tak mampu membayar utang.

Sri Lanka kehilangan pelabuhan dan bandara miliknya dan kemudian dikelola China. Infrastruktur itu diketahui mendapat pembiayaan dari China melalui bantuan utang sebesar USD1,5 miliar yang diberikan pada 2010.

Baca juga: Bahas Kerja Sama Politik, HT Pimpin Rombongan Perindo ke PDIP Besok

Uganda, negara di Afrika Timur, dikabarkan gagal bayar utang ke China terkait pengembangan Bandara Internasional Entebbe. Akibatnya, aset tersebut diambil alih oleh China.

(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Rekomendasi
Dianggap Mampu, 76 Sekolah...
Dianggap Mampu, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
Berita Terkini
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved