Terlilit Utang China, Negara Kaya Tembaga di Afrika Ini Bisa Sedikit Bernapas

Kamis, 29 Juni 2023 - 09:29 WIB
loading...
A A A
Para ahli memuji langkah pemerintah karena berhasil mengamankan perjanjian dan berharap ini akan memperbaiki situasi ekonomi Zambia.

Ekonom Isaac Mwaipopo, dari think-tank Pusat Kebijakan dan Pengembangan Perdagangan, menyakini hal itu akan membantu memulihkan kepercayaan investor. Tetapi Ia juga, mendesak pemerintah untuk mengikuti rencana pemulihan ekonomi.

"Ada kebutuhan untuk membuat rencana yang jelas dalam hal merekonstruksi ekonomi, terutama bahwa kita masih akan berada dalam program IMF selama tiga tahun ke depan. Akan sangat penting bahwa sektor-sektor diidentifikasi yang dapat menjadi strategis untuk pertumbuhan, meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan membantu pengentasan kemiskinan," bebernya.

Dengan menegosiasikan kembali persyaratan utang, Zambia memperoleh ruang bernapas yang berharga untuk menstabilkan ekonominya, menerapkan reformasi yang diperlukan dan mengejar pertumbuhan jangka panjang. Fleksibilitas yang baru ini dapat diarahkan ke investasi dalam perawatan kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan kesejahteraan sosial.

Persyaratan yang direvisi membuat beban pembayaran utang lebih mudah dikelola, mengurangi risiko gagal bayar dan menjaga kelayakan kredit pemerintah. Selain itu, dengan menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan masalah utangnya, Zambia menjadi tujuan yang semakin menarik bagi investasi asing langsung.

Proses ini dilihat sebagai peluang penting bagi Zambia untuk mengatasi tantangan utangnya dan meletakkan dasar bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Namun, restrukturisasi utang dapat mengakibatkan penurunan peringkat kredit Zambia, dan berpotensi membuatnya negara harus membayar lebih mahal saat meminjam uang di masa depan.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Utang Dunia Tembus Rekor...
Utang Dunia Tembus Rekor Gila Rp6.168 Kuadriliun! Investor Mulai Buang AS?
Purbaya Ungkap Administrasi...
Purbaya Ungkap Administrasi di Danantara Hambat Restrukturisasi Utang Whoosh
BP BUMN: KAI Tak Sanggup...
BP BUMN: KAI Tak Sanggup Menanggung Beban Utang Whoosh Sendiri
Tanda-tanda Lempeng...
Tanda-tanda Lempeng Tektonik Baru Lahir di Afrika Ditemukan
Dibantu Tentara Rusia,...
Dibantu Tentara Rusia, Mali Sukses Gagalkan Kudeta Militer
Sahabat Lolly Tagih...
Sahabat Lolly Tagih Utang Rp30,8 Juta, Diduga Uang Mengalir ke Vadel Badjideh
Rekomendasi
Universitas Padjadjaran...
Universitas Padjadjaran Masuk Peringkat 496 Dunia dalam QS WUR 2027
Gelombang Demonstrasi...
Gelombang Demonstrasi Berlanjut di Medan Merdeka Selatan, Mahasiswa Sampaikan Kritik Kebijakan Pemerintah
Ini Amalan Terbaik bagi...
Ini Amalan Terbaik bagi Wanita Haid dan Nifas di Bulan Muharram
Berita Terkini
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bekasi Fajar Cetak Laba...
Bekasi Fajar Cetak Laba Rp30 Miliar, Targetkan Penjualan Lahan Rp600 Miliar
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Antipasi Lonjakan Pengguna,...
Antipasi Lonjakan Pengguna, Jasa Marga Intensifkan Preservasi Rutin Jalan Tol
Keterlambatan RKAB 2026...
Keterlambatan RKAB 2026 Dinilai Hambat Pasokan Batu Bara PLTU Jawa-Bali
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved