Gimana BRICS Bisa Dedolarisasi, Eksportir China Saja Pilih Dolar Ketimbang Yuan
Jum'at, 01 September 2023 - 10:50 WIB
loading...
A
A
A
Meski mereka menghapus sumber pasokan dolar yang sangat dibutuhkan ke pasar spot yuan, para analis memperkirakan otoritas moneter China tidak dapat memaksa eksportir untuk mengkonversi dolar.
Perusahaan-perusahaan China menukarkan nilai tertingginya sebesar USD31,5 miliar dengan yuan dengan bank-bank komersial di pasar forward dalam negeri pada bulan Juli saja, dan totalnya mencapai USD157 miliar sepanjang tahun ini, menurut regulator mata uang negara tersebut.
Ding pada awalnya berencana mengkonversi kepemilikan dolarnya ketika yuan melemah melampaui angka 7 per dolar, tingkat yang hanya dilewati mata uang lokal sebanyak tiga kali sejak krisis keuangan global tahun 2008.
Namun Ding berubah pikiran seiring berkembangnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunganya lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, dan melemahnya yuan yang terus-menerus karena imbal hasil (yield) yang turun seiring China melonggarkan kebijakan moneter untuk mendukung aktivitas ekonomi yang melemah.
“Meningkatnya perbedaan kebijakan moneter adalah alasan utama di balik tren ini,” kata Gary Ng, ekonom senior untuk Asia Pasifik di Natixis.
"Karena kecil kemungkinannya terjadi perubahan mendasar dalam jangka pendek, besarnya perbedaan imbal hasil akan menyeret yuan dan mendorong eksportir untuk bertaruh pada dolar," tandasnya.
Di luar isu ini, perlu dilihat pula nilai transaksi China dengan negara-negara lain yang umum menggunakan dolar. Sebagian besar negara-negara tujuan ekspor China bukan anggota BRICS, justru para sekondan Amerika.
Perusahaan-perusahaan China menukarkan nilai tertingginya sebesar USD31,5 miliar dengan yuan dengan bank-bank komersial di pasar forward dalam negeri pada bulan Juli saja, dan totalnya mencapai USD157 miliar sepanjang tahun ini, menurut regulator mata uang negara tersebut.
Ding pada awalnya berencana mengkonversi kepemilikan dolarnya ketika yuan melemah melampaui angka 7 per dolar, tingkat yang hanya dilewati mata uang lokal sebanyak tiga kali sejak krisis keuangan global tahun 2008.
Namun Ding berubah pikiran seiring berkembangnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunganya lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, dan melemahnya yuan yang terus-menerus karena imbal hasil (yield) yang turun seiring China melonggarkan kebijakan moneter untuk mendukung aktivitas ekonomi yang melemah.
“Meningkatnya perbedaan kebijakan moneter adalah alasan utama di balik tren ini,” kata Gary Ng, ekonom senior untuk Asia Pasifik di Natixis.
"Karena kecil kemungkinannya terjadi perubahan mendasar dalam jangka pendek, besarnya perbedaan imbal hasil akan menyeret yuan dan mendorong eksportir untuk bertaruh pada dolar," tandasnya.
Di luar isu ini, perlu dilihat pula nilai transaksi China dengan negara-negara lain yang umum menggunakan dolar. Sebagian besar negara-negara tujuan ekspor China bukan anggota BRICS, justru para sekondan Amerika.
Lihat Juga :