Dibanduli Data Pengangguran, Wall Street Dibuka Jatuh
Kamis, 07 September 2023 - 23:23 WIB
loading...
Wall Street dibuka tertekan hari ini. Foto/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Indeks utama Wall Street tertekan pada perdagangan Kamis (7/9/2023). Pelaku pasar mencermati penurunan data pengangguran yang menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi masih cukup panas di Amerika Serikat.
Baca juga: Wall Street Ditutup Tergelincir, Data Ekonomi AS Picu Kekhawatiran Inflasi
Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,27%di 34.351,18. S&P 500 turun 0,69% di 4.434,55, sedangkan Nasdaq Composite melemah 1,42% menjadi 13.675,11.
Klaim pengangguran baru di AS mencapai 216.000 orang, alias lebih rendah dari periode sebelumnya sebanyak 229.000. Pelemahan ini membawa sinyal bahwa pasar tenaga kerja masih cukup ketat di Negeri Paman Sam, sehingga berpotensi mendongkrak kenaikan harga atau inflasi.
Kekhawatiran ini semakin menyala seiring kenaikan harga mentah ke level tertinggi sepanjang tahun ini, memicu kekhawatiran tentang biaya energi dan pengaruhnya terhadap inflasi.
Inflasi yang tinggi merupakan kabar tidak sedap bagi pasar, sebab akan mendorong bank sentral untuk kembali memperketat moneter dengan kebijakan suku bunga. Rates yang tinggi dapat menekan selera investor terhadap aset berisiko seperti saham.
Baca juga: Ini Draf Perubahan Jadwal Pendaftaran Capres-Cawapres yang Diusulkan KPU
Melansir Investing, Kamis (7/9/2023), pasar masih menantikan pidato sejumlah pejabat The Fed di sebuah konferensi teknologi finansial (fintech). Komenter bank sentral menjadi petunjuk untuk mengukur seberapa besar potensi kenaikan suku bunga di masa depan.
Baca juga: Wall Street Ditutup Tergelincir, Data Ekonomi AS Picu Kekhawatiran Inflasi
Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,27%di 34.351,18. S&P 500 turun 0,69% di 4.434,55, sedangkan Nasdaq Composite melemah 1,42% menjadi 13.675,11.
Klaim pengangguran baru di AS mencapai 216.000 orang, alias lebih rendah dari periode sebelumnya sebanyak 229.000. Pelemahan ini membawa sinyal bahwa pasar tenaga kerja masih cukup ketat di Negeri Paman Sam, sehingga berpotensi mendongkrak kenaikan harga atau inflasi.
Kekhawatiran ini semakin menyala seiring kenaikan harga mentah ke level tertinggi sepanjang tahun ini, memicu kekhawatiran tentang biaya energi dan pengaruhnya terhadap inflasi.
Inflasi yang tinggi merupakan kabar tidak sedap bagi pasar, sebab akan mendorong bank sentral untuk kembali memperketat moneter dengan kebijakan suku bunga. Rates yang tinggi dapat menekan selera investor terhadap aset berisiko seperti saham.
Baca juga: Ini Draf Perubahan Jadwal Pendaftaran Capres-Cawapres yang Diusulkan KPU
Melansir Investing, Kamis (7/9/2023), pasar masih menantikan pidato sejumlah pejabat The Fed di sebuah konferensi teknologi finansial (fintech). Komenter bank sentral menjadi petunjuk untuk mengukur seberapa besar potensi kenaikan suku bunga di masa depan.
(uka)
Lihat Juga :