alexametrics

Vania Santoso, Ecopreneur Pendiri Startic

Tak Mau 'Menggarami Lautan'

loading...
Tak Mau Menggarami Lautan
Vania Santoso, sukses mengembangkan usaha dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Foto : Twitter
A+ A-
USIA 12 tahun, Vania Santoso sudah peduli terhadap lingkungan, terutama sampah. Alasannya satu, yaitu bosan menghadapi musibah banjir yang kerap datang ke rumahnya.

Vania bersama sang kakak lantas mendirikan AV Foundation yang mengajak orang agar peduli terhadap lingkungan dan dapat memilah sampah untuk didaur ulang.Vania aktif menyosialisasikannya dengan berbagai cara, antara lain melalui musik yang materinya dibagikan di jalan.

Setelah itu, namanya mulai dikenal hingga dipilih menjadi Duta Lingkungan Hidup oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005. Sejak saat itu, masa remaja Vania dihabiskan dengan aktif di berbagai konferensi, lomba, dan pertukaran pelajar. Fokusnya masih sama, yakni pada lingkungan hidup.

Tak salah bila kini dara 25 tahun itu menjadi salah satu pendiri sebuah bisnis sosial yang memproduksi kerajinan tangan daur ulang dari bungkus makanan hingga kantong semen. Mengusung merek STARTIC (Stylish Art in Ecopreuneurship), Vania mampu memperkenalkan tas daur ulang dan menyosialisasikan isu ramah lingkungan kepada masyarakat.

Hal paling penting, dia juga dapat memberdayakan perajin dan menebar banyak ilmu. Bagaimana perempuan asal Surabaya ini membangun bisnis sosialnya? Apa pula aktivitasnya kini sebagai sosok yang rajin mengampanyekan penggunaan produk daur ulang? Inilah semangat Vania yang tergambar dari ceritanya kepada KORAN SINDO.

Bagaimana awal mendirikan STARTIC?
Dari kegagalan, hehehe.... Bersyukur sekali, setelah terpilih menjadi Duta Lingkungan Hidup Indonesia pada 2005, saya berkesempatan ke luar negeri sedikitnya setahun sekali, baik itu untuk konferensi, lomba, maupun pertukaran pelajar dan lain-lain. Saya bangga karena bisa mendapatkan kesempatan luar biasa itu secara gratis, bahkan membawa nama Indonesia.

Waktu saya mendapat beasiswa penuh dari DIKTI Kemendikbud pada 2012 untuk menjadi One Young World Ambassador dan mengikuti konferensinya di Pittsburgh, Amerika Serikat, saya senang banget bisa mempresentasikan proyek Ecopreneurship Empowerment for Multi-benefits (waktu itu sampai dibuatkan brosur keren juga dari DIKTI).

Respons masyarakat luar negeri sangat positif. Tas daur ulang bungkus kopi waktu dijual USD15 saja sudah laku banget dan orang di sana ngerasa kok murah? Jadi waktu balik ke Indonesia, saya merasa euforia banget, produksi makin banyak barang daur ulang. Nyatanya di Indonesia penjualannya saat itu hampir nol.
halaman ke-1 dari 3
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top