Urgensi SRBI, Amunisi Baru BI untuk Mencegah Risiko Sistemik Likuiditas Rupiah?

Senin, 23 Oktober 2023 - 22:25 WIB
loading...
Urgensi SRBI, Amunisi...
Jadi, apa sebenarnya SRBI itu?. Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh BI, seperti janji pembayaran dalam bentuk Rupiah, yang didukung oleh SBN yang dimiliki oleh BI. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Beberapa ancaman risiko kegagalan likuiditas diantaranya dipicu oleh krisis ekonomi sistemik yang disebabkan oleh adanya gejolak pada pasar keuangan, krisis global, tingkat inflasi negara, dan lain lain. Tingginya inflasi yang terjadi di Amerika Serikat atau AS, disusul dengan melambungnya suku bunga acuan The Fed akhir-akhir ini berdampak pada nilai tukar rupiah yang terus melemah ditekan oleh dolar Amerika Serikat (USD).

Baca Juga: Tok! Suku Bunga Acuan BI Naik 25 Bps Jadi 6,00%

Melemahnya nilai rupiah ini menjadi sinyal bagi Bank Indonesia (BI) dalam mengambil kebijakan moneter untuk menstabilkan mata uang rupiah. Berdasarkan data kurs penutupan Bank Indonesia yang didapat dari reuters, sejak April 2023, nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp14.800 yang kemudian bergerak semakin tertekan hingga mencapai Rp15.810 pada penutupan 20 Oktober 2023.

Hal ini merupakan dampak yang terjadi akibat kencangnya arah kebijakan The Fed yang hawkish. Ketidakstabilan nilai rupiah yang tidak dikendalikan akan menghasilkan efek bola salju bagi perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Kontraksi 0,8%, Utang Luar Negeri Indonesia Capai Rp6.184 T per Agustus 2023

Di antaranya yang pertama, nilai Rupiah yang melemah terhadap dolar AS dapat menyebabkan kelebihan likuiditas di pasar uang ketika investor asing cenderung menarik dananya dari Indonesia dengan menjual aset-aset mereka di Indonesia, termasuk surat berharga negara (SBN) yang kemudian mengakibatkan harga aset tersebut turun.

Penurunan harga aset-aset tersebut akan memberikan efek domino bagi investor domestik yang memiliki aset tersebut dan tergerak untuk menjual aset-aset mereka di pasar uang dampak dari penurunan harga aset. Kelebihan likuiditas yang terjadi di investor publik domestik dapat menyebabkan peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa karena uang beredar lebih banyak yang dapat dibelanjakan pada sektor real, hingga akhirnya menyebabkan inflasi.

Kedua, ketidakstabilan/pelemahan nilai Rupiah akan meningkatkan nilai utang negara dalam valuta asing semakin meningkat. Nilai tukar rupiah yang melemah akan membuat biaya utang negara dalam valuta asing menjadi lebih mahal dan menyebabkan pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak dana untuk membayar bunga utang negara.

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, Statistik Utang Luar Negeri Indonesia yang dimiliki pemerintah hingga 31 Agustus 2023 adalah USD191.59 miliar dengan komposisi utang dalam valuta asing sebesar USD136.05 miliar atau 71% dari total ULN.

Ketiga, nilai cadangan devisa negara akan terus tergerus ketika nilai Rupiah terdepresiasi. Hal ini dikarenakan selain untuk pembayaran utang negara dalam mata uang asing, cadangan devisa juga digunakan Bank Indonesia dalam melakukan intervensi pasar valuta asing ketika permintaan dan penawaran dolar AS tidak seimbang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indeks Keyakinan Konsumen...
Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 Menurun, Ini Penjelasan BI
Rupiah Melemah, Perajin...
Rupiah Melemah, Perajin Tahu Tempe Gelisah Imbas Lonjakan Harga Kedelai Impor
Rupiah Membaik Tinggalkan...
Rupiah Membaik Tinggalkan Level Rp18.000 per USD, Ini Sentimennya
BI Rate Naik Demi Menahan...
BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
Ekonom: Kebijakan BI...
Ekonom: Kebijakan BI dan Pemerintah Memperkuat Rupiah Sudah Tepat
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Gapasdap Dorong Pemerintah...
Gapasdap Dorong Pemerintah Perhatikan Nasib Angkutan Pelayaran Imbas Kenaikan Dolar AS
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Rekomendasi
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
SDH Depok Komitmen Bangun...
SDH Depok Komitmen Bangun Pendidikan Karakter hingga Pengembangan Kepemimpinan
Terima Suap Rp15 Juta...
Terima Suap Rp15 Juta dan Urus Perkara, Hakim PN Cilacap Dipecat
Berita Terkini
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
Antam Tebar Dividen...
Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, 70% dari Laba Bersih di 2025
Dorong Literasi Finansial...
Dorong Literasi Finansial dan AI, IPOT Jawab Tantangan Makro Gen Z
Krakatau Posco Tanamkan...
Krakatau Posco Tanamkan Budaya Keselamatan kepada Generasi Muda
Infografis
Siapa John Ternus, Bos...
Siapa John Ternus, Bos Baru Apple Pengganti Tim Cook?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved