Berdayakan Pengrajin Lokal, Bisnis Sepatu Mamaky Bantu UMKM
Kamis, 26 Oktober 2023 - 08:20 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Kekayaan Mesut Ozil dari Bisnis Kopi hingga Sepatu Merek Sendiri Dibuat di Indonesia!
Namun, keberanian dan tekad membawa keduanya bisa lebih jauh lagi. Menyimpan stok sepatu sebanyak 200 pasang penuh di tempat tinggal mereka dan bahkan harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer setiap hari untuk mengantarkan paket pesanan karena mereka belum memiliki kendaraan. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya bisa membeli motor untuk mengantarkan paketan ke ekspedisi.
Beberapa bulan berlalu, bisnisnya mulai melejit hingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke Bogor dan mempekerjakan 13 orang karyawan. Awalnya, "SEPATUMAMAKY" berjualan secara eceran, tetapi mereka beralih ke produksi skala besar dengan membuka jasa maklon (produksi atas nama pemesan).
"Sejak wabah covid19, banyak sekali pengrajin yang terpaksa kehilangan pekerjaan, karena permintaan produksi menurun. Mengandalkan eceran memang akan lebih menguntungkan bagi kami, tapi di sisi pengrajin, tidak demikian," keluh Mamaky Eky.
Selama pandemi, Mamaky Eky dan suaminya memutuskan untuk membuka grosir dan jasa maklon. Mereka berhasil melibatkan puluhan pengrajin lokal di Bogor, menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan masyarakat sekitar.
"Sedih rasanya jika mendengar para pengrajin yang sudah berusia lanjut bercerita, jika anak-anak mereka sudah jarang yang antusias untuk melanjutkan profesi orang tuanya sebagai pengrajin sepatu. Anak-anak muda lebih memilih mencari pekerjaan sebagai karyawan minimarket atau pekerjaan lain di luar kota, karena pekerjaan ini dianggap tidak menjanjikan. Padahal dari tangan-tangan mereka bisa lahir karya-karya yang mengagumkan," lanjut Mamaky Eky.
Namun, keberanian dan tekad membawa keduanya bisa lebih jauh lagi. Menyimpan stok sepatu sebanyak 200 pasang penuh di tempat tinggal mereka dan bahkan harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer setiap hari untuk mengantarkan paket pesanan karena mereka belum memiliki kendaraan. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya bisa membeli motor untuk mengantarkan paketan ke ekspedisi.
Beberapa bulan berlalu, bisnisnya mulai melejit hingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke Bogor dan mempekerjakan 13 orang karyawan. Awalnya, "SEPATUMAMAKY" berjualan secara eceran, tetapi mereka beralih ke produksi skala besar dengan membuka jasa maklon (produksi atas nama pemesan).
"Sejak wabah covid19, banyak sekali pengrajin yang terpaksa kehilangan pekerjaan, karena permintaan produksi menurun. Mengandalkan eceran memang akan lebih menguntungkan bagi kami, tapi di sisi pengrajin, tidak demikian," keluh Mamaky Eky.
Selama pandemi, Mamaky Eky dan suaminya memutuskan untuk membuka grosir dan jasa maklon. Mereka berhasil melibatkan puluhan pengrajin lokal di Bogor, menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan masyarakat sekitar.
"Sedih rasanya jika mendengar para pengrajin yang sudah berusia lanjut bercerita, jika anak-anak mereka sudah jarang yang antusias untuk melanjutkan profesi orang tuanya sebagai pengrajin sepatu. Anak-anak muda lebih memilih mencari pekerjaan sebagai karyawan minimarket atau pekerjaan lain di luar kota, karena pekerjaan ini dianggap tidak menjanjikan. Padahal dari tangan-tangan mereka bisa lahir karya-karya yang mengagumkan," lanjut Mamaky Eky.
Lihat Juga :