Lonjakan Inflasi Hantam Rusia, Bank Sentral Naikkan Suku Bunga Jadi 15%

Minggu, 29 Oktober 2023 - 20:50 WIB
loading...
Lonjakan Inflasi Hantam...
Bank sentral Rusia telah menaikkan suku bunga utamanya menjadi 15% untuk mencoba menjinakkan inflasi dan meningkatkan rubel yang melemah. Foto/Dok Sputnik
A A A
MOSKOW - Bank sentral Rusia telah menaikkan suku bunga utamanya menjadi 15% untuk mencoba menjinakkan inflasi dan meningkatkan rubel yang melemah. Kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan sebesar dua poin secara persentase meningkatkan biaya pinjaman untuk keempat kalinya berturut-turut.

Baca Juga: Capai 95%, Dedolarisasi dalam Perdagangan Rusia-China Hampir Tuntas

Secara global laju kenaikan harga semakin tinggi, sebagian disebabkan oleh perang Rusia Ukraina . Tercatat inflasi di Rusia pada bulan September 2023 mencapai 6%.

Selain itu ada juga peningkatan pengeluaran pemerintah di Rusia karena menuangkan sumber daya ke dalam mesin perangnya. Bank Rusia kini telah menaikkan suku bunga sebesar 7,5 poin persentase sejak Juli karena berusaha untuk menurunkan inflasi kembali ke target 4%.

Baca Juga: Kontraktor Pertahanan Jerman Ketiban Durian Runtuh Rp3,2 Triliun di Tengah Perang Ukraina

Sebelumnya Kremlin menyerukan kebijakan moneter yang lebih ketat, ketika rubel jatuh melewati 100 terhadap dolar Amerika Serikat (USD). "Tekanan inflasi saat ini telah meningkat secara signifikan di atas ekspektasi Bank Rusia," katanya pada hari Jumat.

Permintaan barang dan jasa melampaui pasokan, dan dikatakan ada pertumbuhan pinjaman yang tinggi. Gangguan rantai pasokan selama pandemi virus corona membantu mendorong kenaikan harga, kemudian invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 mengganggu pasokan pangan global dan menaikkan biaya energi.

Inflasi harga pangan dan energi telah menjadi faktor utama dalam mendorong kenaikan harga secara umum di seluruh dunia. Tekanan juga meningkat pada ekonomi Rusia, karena laju impor melesat lebih cepat daripada ekspor dan pengeluaran militer terus tumbuh imbas perang Ukraina.

Sementara iru Rusia terus menjadi sasaran sanksi Barat sebagai respons atas serangannya ke Ukraina. Mata uang, Rubel anjlok setelah perang pertama kali pecah, tetapi didukung oleh kontrol modal dan ekspor minyak dan gas.

Namun, mata uang tersebut telah kehilangan sekitar seperempat nilainya secara keseluruhan terhadap dolar AS sejak konflik di Ukraina dimulai.

Ini bukan pertama kalinya Bank Rusia menaikkan suku bunga secara tajam. Ketika Rusia pertama kali menyerang Ukraina, bank menaikkan suku bunga dari 9,5% menjadi 20%, tetapi tak lama kemudian mulai memangkasnya kembali.

Akan tetapi kenaikan suku bunga hanya bisa sejauh ini dalam menstabilkan ekonomi, dan analis mengatakan, Rusia masih berjuang untuk menarik investasi karena sanksi Barat. Faktor utama dalam melemahnya rubel adalah perdagangan Rusia yang terkena sanksi, kata para ekonom.

Sejak pecahnya perang, banyak negara Uni Eropa yang bergantung pada minyak dan gas Rusia telah berjanji untuk menghentikan impor dari negara itu dan sejak saat itu banyak yang menemukan pemasok alternatif.

Para pemimpin Uni Eropa telah memperkenalkan pembatasan harga, sebagai upaya membatasi keuntungan yang diperoleh Rusia dari ekspor minyak. Selanjutnya Rusia juga telah dikeluarkan dari Swift, sistem pembayaran internasional yang digunakan oleh ribuan lembaga keuangan.

Komisi Eropa mengklaim sanksi Rusia berjalan sesuai rencana dan berhasil menekan Moskow, dimana ekspor batubara telah jatuh. Lalu produksi minyak di negara itu turun lebih dari seperempat, yang dipaparkan dalam sebuah posting blog komisi UE pada bulan Agustus.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Rekomendasi
Jepang Tahan Swedia...
Jepang Tahan Swedia 1-1, Samurai Biru Lolos ke 32 Besar dan Siap Tantang Brasil
Besok Puncak HUT ke-499...
Besok Puncak HUT ke-499 Jakarta di Bundaran HI, Ini Info Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkirnya
Ini Alasan Harga Lepas...
Ini Alasan Harga Lepas E4 Belum Juga Diumumkan
Berita Terkini
JEC Eye Hospitals &...
JEC Eye Hospitals & Clinics Raih Marketeers OMNI Brands of the Year 2026
Bank Bangkrut di Indonesia...
Bank Bangkrut di Indonesia Tambah Lagi, Izin Dicabut OJK Akibat Penyehatan Modal Gagal
Perusahaan APAC Berlomba...
Perusahaan APAC Berlomba Adopsi AI, Data Gudang Masih Jadi Hambatan
Pajak Digital Tembus...
Pajak Digital Tembus Rp52,85 Triliun per Mei 2026, Ini 4 Pilar Penopangnya
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Merayap Tipis ke 6.010, Ada 519 Saham Malas Bergerak
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Infografis
Pewaris Kerajaan Inggris...
Pewaris Kerajaan Inggris Pangeran William Jadi Target Drone Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved