Mantan Ekonom Gedung Putih: Negara-negara BRICS Bisa Hancurkan Dolar

Rabu, 08 November 2023 - 14:12 WIB
loading...
Mantan Ekonom Gedung...
Dolar dapat menghadapi tantangan yang semakin besar dari negara-negara BRICS. FOTO/Europeanconservative
A A A
JAKARTA - Mantan Ekonom Gedung Putih, Joe Sullivan menegaskan dolar dapat menghadapi tantangan yang semakin besar dari negara-negara BRICS , berkat banyaknya anggota dan pengaruh blok tersebut yang semakin besar terhadap perdagangan global.

Dalam sebuah artikel opini baru-baru ini untuk Foreign Policy, Sullivan menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa negara-negara BRICS dapat menciptakan mata uang untuk menyaingi dolar AS dalam perdagangan internasional. Mata uang seperti itu berpotensi menggulingkan dolar dari posisinya di puncak pasar perdagangan global dan sebagai mata uang cadangan yang dominan.

Sullivan memperingatkan, meskipun para pejabat BRICS mengatakan tidak ada mata uang saingan yang sedang dikerjakan, blok negara-negara pasar berkembang tersebut, yang baru-baru ini memperluas undangan ke Argentina, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dapat menjadi ancaman bagi mata uang hijau karena pengaruhnya yang terus meningkat.

Baca Juga: Tepis Dugaan Adanya Tubuh Ganda, Kremlin Tegaskan Hanya Ada Satu Putin

Penambahan Mesir, Ethiopia, dan Arab Saudi dapat memberikan pengaruh BRICS lebih dari 12% dari seluruh perdagangan global. Hal ini dikarenakan ketiga negara tersebut mengelilingi Terusan Suez, sebuah jalur utama bagi barang-barang untuk mengalir ke pasar internasional.

Sullivan mencatat bahwa blok ini juga memiliki pengaruh besar di pasar komoditas. Arab Saudi, Iran, dan Uni Emirat Arab adalah eksportir bahan bakar fosil terbesar di dunia. Sementara itu, Brazil, China, dan Rusia adalah eksportir utama logam mulia.

Penambahan Arab Saudi secara khusus dapat memberikan keuntungan besar bagi BRICS+. Negara Timur Tengah ini memiliki lebih dari USD100 miliar obligasi pemerintah AS, yang telah membantu meningkatkan total kepemilikan BRICS di US Treasury menjadi lebih dari USD1 triliun.

"Negara-negara BRICS+ tidak perlu menunggu sampai mata uang perdagangan bersama memenuhi kondisi teknis khas mata uang cadangan global sebelum mereka mengayunkan bola perusak ekonomi mereka yang baru saja diperbesar ke arah dolar," ujarnya, dikutip dari Business Insider, Rabu (8/11/2023).

Sullivan menunjuk pada yuan China, yang mengungguli mata uang global lainnya dalam perdagangan, karena mitra-mitra dagang Beijing meningkatkan penggunaan renminbi. Pada akhirnya, tren-tren tersebut dapat membantu menempatkan greenback pada posisi sama dengan pound Inggris. Sullivan pun memperingatkan bahwa dolar pernah tergelincir dari dominasi internasional pada tahun 1800-an.

Baca Juga: Deretan Negara Asia yang Gencar Dedolarisasi, dari China hingga Arab Saudi

Ekonom-ekonom lain berpendapat bahwa peran dolar AS sebagai mata uang perdagangan dan cadangan devisa utama di dunia kemungkinan besar akan terus berlanjut untuk waktu lama. Data dari Bank of International Settlements dan Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan greenback masih mengalahkan mata uang saingannya dalam perdagangan internasional dan cadangan devisa bank sentral dengan selisih yang cukup besar, dan yuan hanya membuat keuntungan kecil baru-baru ini dalam pundi-pundi bank sentral.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Dolar AS Mulai Dikepung,...
Dolar AS Mulai Dikepung, Mampukah BRICS Meruntuhkan Dominasi Greenback?
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Rekomendasi
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Terungkap! Andri Mulyono...
Terungkap! Andri Mulyono Kongkalikong dengan PPK untuk Dapat Proyek Pengadaan Motor Listrik BGN
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
13 Rudal dan Drone Iran...
13 Rudal dan Drone Iran yang Bisa Hancurkan Pangkalan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved