Pedas! Pemerintah Disebut Lamban dan Setengah-setengah Atasi Pandemi

Kamis, 06 Agustus 2020 - 15:11 WIB
loading...
Pedas! Pemerintah Disebut...
Kerumunan masyarakat saat Car Free Day di salah satu titik di Jakarta beberapa waktu lalu. Indef menilai pemerintah setengah-setengah atasi pandemi. Foto/Dok. SINDOnews
A A A
JAKARTA - Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menyebut kebijakan pemerintah dalam mengatasi pandemi saat ini terlambat dan setengah-setengah. Implikasinya, kasus positif Covid-19 masih terus meningkat dan tekanan ke ekonomi terus berlanjut.

Indef menilai, respons kesehatan terhadap pandemi terlambat dan pelaksanaan new normal pun terlalu longgar sehingga kasus positif Covid-19 terus meningkat. Sementara di negara lain, pemerintah melawan pandemi corona dengan mengurangi interaksi dan kerumunan sambil memberikan bantuan sosial yang cukup.

(Baca Juga: Marah 3 Kali, Menteri Tak Juga Berganti)

"Dengan demikian rakyat yang pekerjaannya berisiko kesehatan tinggi bisa tinggal di rumah dan menekan penyebaran. Tapi data penduduk miskin dan rentan Indonesia yang terakhir di-update secara nasional itu tahun 2015 tidak lagi akurat untuk jadi acuan penyaluran bansos di tahun 2020. Akibatnya PSBB rendah efektivitasnya," ujar Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto dalam diskusi online di Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Tanpa penurunan kasus Covid-19 yang nyata, sambung dia, pelaku ekonomi dan investor akan tetap menahan langkah. Akibatnya, meski triliunan rupiah telah dialokasikan untuk pemulihan ekonomi, dengan realisasi masih rendah dan penyebaran pandemi yang masih terus meningkat, pertumbuhan ekonomi pun tersandung. "Dampaknya ditunjukkan pada angka pertumbuhan triwulan II/2020," tegas Eko.

(Baca Juga: Nggak Ada yang Baru, Ini Jurus Pemerintah Tangkal Resesi)

Dari sisi pengeluaran, kata dia, terlihat sekali bahwa di triwulan II konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi yang sangat besar di mana pertumbuhannya -5,51% (yoy), yang menandakan daya beli yang turun drastis. Menurut Eko, pertumbuhan minus pada sisi konsumsi ini yang pertama kali selama era reformasi. Padahal 57,85% perekonomian Indonesia sangat bergantung dari laju konsumsi rumah tangga.

"Ketika posisinya konsumsi rumah tangga minus, maka sangat mengganggu terhadap keseluruhan dari komponen pembentuk PDB," tandasnya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Soal Siapa yang Cocok...
Soal Siapa yang Cocok Pimpin OJK, Ekonom: Figur Harus Diterima Pasar
Efek Perang Dagang,...
Efek Perang Dagang, Indef Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI di 2025 Jadi 4,87%
INDEF: Ekosistem Hilirisasi...
INDEF: Ekosistem Hilirisasi Tembaga Indonesia Tunjukkan Perkembangan Positif dan Punya Nilai Strategi Signifikan
Indef: 79% Netizen Anggap...
Indef: 79% Netizen Anggap Kenaikan Utang Negara sebagai Beban
Hati-hati DPR! Skema...
Hati-hati DPR! Skema Power Wheeling dalam RUU EBT Bisa Bebani PLN dan Keuangan Negara
Kejayaan Batu Bara dan...
Kejayaan Batu Bara dan CPO Meredup, Ekspor Indonesia Bakal Terus Turun hingga 2025
Redam Risiko Lonjakan...
Redam Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia, INDEF: Kendaraan Listrik Jadi Strategi Krusial
Indef: MBG Investasi...
Indef: MBG Investasi Strategis Pembangunan Sumber Daya Manusia
CSED-Indef Dorong Reformasi...
CSED-Indef Dorong Reformasi Kelembagaan Haji dan Umrah
Rekomendasi
Beri Semangat Anak Pejuang...
Beri Semangat Anak Pejuang Leukemia, Polres Jakpus Wujudkan Harapan Deni Jadi Polisi Cilik
Jelang Muktamar ke-35,...
Jelang Muktamar ke-35, Calon Ketum PBNU Gus Salam Silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-NTT
Bagikan Pangan Gratis...
Bagikan Pangan Gratis dan Gelar Senam Sehat, MNC Peduli dan Park Hyatt Jakarta Angkat Program Food Rescue untuk Warga Duri Kepa
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved