Israel Kumpulkan Pinjaman Rp92,1 Triliun untuk Mendanai Perang Melawan Hamas

Minggu, 19 November 2023 - 16:08 WIB
loading...
Israel Kumpulkan Pinjaman...
Israel meminjam miliaran dolar dalam beberapa pekan terakhir, melalui kesepakatan yang dinegosiasikan secara private untuk membantu mendanai perangnya melawan Hamas. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Israel meminjam miliaran dolar dalam beberapa pekan terakhir, melalui kesepakatan yang dinegosiasikan secara private untuk membantu mendanai perang nya melawan Hamas . Akan tetapi Israel harus membayar pinjaman dengan bunga yang luar biasa tinggi ketika melewati batas waktu.

Baca Juga: 5 Negara Investor Terbesar Israel, Salah Satunya Kucurkan Rp793,3 Triliun

Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober, Israel telah mengumpulkan utang melebihi USD6 miliar atau setara Rp92,1 triliun (Kurs Rp15.357/USD) dari investor internasional. Hal itu termasuk USD5,1 miliar dari tiga penerbitan obligasi baru dan enam top-up obligasi berdenominasi dolar dan euro, lalu ada penggalangan dana sebesar lebih dari USD1 miliar melalui entitas AS.

Seperti dilansir Financial Time, investor belum lama ini mengatakan, telah diterbitkan dalam apa yang disebut penempatan pribadi, sebuah proses di mana sekuritas tidak ditawarkan ke pasar publik melainkan dijual kepada investor terpilih.

Baca Juga: Biayai Perang Lawan Hamas, Israel Usul Tambah Anggaran Negara Rp126 Triliun

Harga akhir dari kesepakatan itu tidak diungkapkan. Namun, para bankir mengatakan, mereka telah menetapkan harga sesuai dengan apa yang mereka harapkan dari kesepakatan publik. Dari dua obligasi dolar yang diterbitkan pada bulan November, Israel membayar kupon 6,25% dan 6,5% pada obligasi yang jatuh tempo dalam waktu empat dan delapan tahun.

Hal itu jauh lebih tinggi dari benchmark imbal hasil Treasury AS, yang berkisar antara 4,5 dan 4,7% ketika obligasi diterbitkan. Kesepakatan tersebut masing-masing diatur oleh Goldman Sachs dan Bank of America.

Sebaliknya, Israel menerbitkan obligasi dolar di Januari 2033 dengan kupon 4,5%, spread yang jauh lebih kecil – atau kesenjangan – di atas imbal hasil Treasury, yang 3,6% pada saat itu.

Beberapa di pasar utang memandang penerbitan obligasi Israel untuk membantu mendanai perang disebut kontroversial. Sementara beberapa investor, misalnya di AS, telah tertarik untuk meminjamkan ke negara itu setelah serangan 7 Oktober.

Investor dan analis mencatat bahwa penerbitan bumper dilakukan melalui private placement daripada melalui sindikasi terbuka dan roadshow, yang biasanya dilakukan ketika obligasi baru.

Diterangkan oleh para investor, alasan di balik langkah tersebut adalah bisa mengumpulkan dana perang dengan cepat tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan. Lalu bisa juga menjadi tanda gugupnya beberapa investor soal membeli utang Israel.

"Kenyataannya adalah bahwa bagi banyak investor, Israel saat ini membawa terlalu banyak risiko ESG (lingkungan, sosial dan tata kelola), terutama bagi beberapa investor pasar negara berkembang di mana Israel berada di luar tolok ukur," kata Thys Louw, manajer portofolio utang pasar berkembang di fund manager Ninety One.

"Pasar masih menetapkan premi yang sangat tinggi atas utang internasional Israel, mengingat bahwa perang sedang berlangsung," kata seorang ahli strategi di salah satu bank investasi terbesar di dunia yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengingat sifat sensitif dari topik tersebut.

"Secara khusus, pasar khawatir tentang bagaimana perang akan berdampak pada pertumbuhan Israel dan tingkat utang publik," sambungnya.

Kementerian keuangan Israel tidak menanggapi permintaan komentar, seperti dilansir FT terkait masalah ini.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Lepas Ketergantungan...
Israel Lepas Ketergantungan Dolar AS, Menerima Rp5.193 Triliun Sejak PD II
Utang Dunia Tembus Rekor...
Utang Dunia Tembus Rekor Gila Rp6.168 Kuadriliun! Investor Mulai Buang AS?
Mentan Amran Waswas,...
Mentan Amran Waswas, Perang Iran vs AS-Israel Picu Kenaikan Harga Pangan
Imbas Perang Iran vs...
Imbas Perang Iran vs AS-Israel, Penerbangan dari Bali ke Timteng Terganggu
AS Rancang Gaza Jadi...
AS Rancang Gaza Jadi Resor Futuristik Senilai Rp1.878 Triliun, Rencana Rekonstruksi 20 Tahun
IMF Peringatkan Soal...
IMF Peringatkan Soal Ancaman Utang Global, Efeknya Ngeri
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Rekomendasi
Dokter Tifa Pakai Kursi...
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda hingga Dibopong usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri
Mantan Wakapolri: Polisi...
Mantan Wakapolri: Polisi yang Bawa Dokter Tifa ke RS Polri Pernah Dampingi Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Temui Jokowi
Biogas, Energi Terbarukan...
Biogas, Energi Terbarukan sebagai Upaya Mencapai Target Net Zero Emission
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved