Terus Kucurkan Bansos, Pemerintah Perbanyak BLT dan Padat Karya
Jum'at, 07 Agustus 2020 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Hanya saja besaran bansos tersebut dinilai masih kurang sehingga perlu adanya program bansos lainnya, misalnya bantuan langsung tunai (BLT) dan program padat karya. Kedua program ini harus diperbanyak agar uang yang beredar bertambah banyak sehingga daya beli masyarakat meningkat.
Pengamat ekonomi Piter Abdullah mengatakan, kebijakan tersebut memanglah baik, tetapi seharusnya diimbangi dengan peningkatan BLT kepada masyarakat di sektor informal. “Kan tidak semua masyarakat kita bekerja di sektor formal. Bagaimana dengan pedagang bakso dan lainnya?" kata Piter.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, pemberian uang tunai kepada pegawai yang bergaji di bawah Rp5 juta dinilai masih kecil. Sebab, angka tersebut masih sekitar 12% dari Rp5 juta. “Artinya apa? Ini masih kecil kalau Rp600.000 saja, masih sekitar 12% doang dari Rp5 juta. Harusnya bisa kasih yang lebih besar lagi,” kata Bhima.
Dia pun menyarankan pemerintah lebih berani lagi memberikan BLT kepada masyarakat dengan jumlah yang besar, misalkan sekitar Rp1 juta hingga 2 juta per bulan. Dengan asumsi 1 orang pencari kerja itu menanggung 3 orang anggota keluarga.
“Jadi kalau ngasihnya cuma Rp600.000 dan harus menghidupi tiga anggota keluarga lain mah masih kecil. Makanya jumlahnya harus diperbesar lagi,” cetus Bhima.
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan akan memperpanjang bansos. Adapun, bansos ini akan diperpanjang hingga 2021 dan secara bertahap akan mulai dikurangi pada 2022. (Lihat videonya: Penutupan Gedung DPRD DKI Jakarta Diperpanjang)
Selain itu, usaha dan industri padat karya akan terus didorong hingga 2022. “Kita akan melakukan restrukturisasi UMKM. Selain itu, penempatan dana dan penjaminan juga terus dilakukan agar sektor riil dapat bergerak,” tandasnya. (Rina Anggraeni/Hafid Fuad/Kunthi Fahmar Sandy)
Pengamat ekonomi Piter Abdullah mengatakan, kebijakan tersebut memanglah baik, tetapi seharusnya diimbangi dengan peningkatan BLT kepada masyarakat di sektor informal. “Kan tidak semua masyarakat kita bekerja di sektor formal. Bagaimana dengan pedagang bakso dan lainnya?" kata Piter.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, pemberian uang tunai kepada pegawai yang bergaji di bawah Rp5 juta dinilai masih kecil. Sebab, angka tersebut masih sekitar 12% dari Rp5 juta. “Artinya apa? Ini masih kecil kalau Rp600.000 saja, masih sekitar 12% doang dari Rp5 juta. Harusnya bisa kasih yang lebih besar lagi,” kata Bhima.
Dia pun menyarankan pemerintah lebih berani lagi memberikan BLT kepada masyarakat dengan jumlah yang besar, misalkan sekitar Rp1 juta hingga 2 juta per bulan. Dengan asumsi 1 orang pencari kerja itu menanggung 3 orang anggota keluarga.
“Jadi kalau ngasihnya cuma Rp600.000 dan harus menghidupi tiga anggota keluarga lain mah masih kecil. Makanya jumlahnya harus diperbesar lagi,” cetus Bhima.
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan akan memperpanjang bansos. Adapun, bansos ini akan diperpanjang hingga 2021 dan secara bertahap akan mulai dikurangi pada 2022. (Lihat videonya: Penutupan Gedung DPRD DKI Jakarta Diperpanjang)
Selain itu, usaha dan industri padat karya akan terus didorong hingga 2022. “Kita akan melakukan restrukturisasi UMKM. Selain itu, penempatan dana dan penjaminan juga terus dilakukan agar sektor riil dapat bergerak,” tandasnya. (Rina Anggraeni/Hafid Fuad/Kunthi Fahmar Sandy)
(ysw)
Lihat Juga :