Pemerintah Tarik Utang Baru Rp203,6 Triliun, Sri Mulyani: Jauh Lebih Kecil
Jum'at, 24 November 2023 - 16:50 WIB
loading...
Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan penarikan utang pemerintah per Oktober 2023. FOTO/Antara Photo
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan telah menarik utang baru Rp203,6 triliun sampai Oktober 2023 atau sekitar 29,2% dari target penarikan utang tahun ini yang sebes Rp696,3 triliun.
"Sampai dengan akhir Oktober kita hanya merealisasi pembiayaan utang yang sebesar Rp203,6 triliun. Ini jauh lebih kecil dari tahun lalu di mana sampai Oktober 2022 kita melakukan pembiayaan utang mencapai Rp507,3 triliun," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers, Jumat (24/11/2023).
Baca Juga: 10 Negara dengan Utang Paling Sedikit di Dunia, Nomor 9 Sedang Perang
Bendahara Negara merincikan, pembiayaan utang sampai dengan Oktober 2023 itu terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 185,4 triliun atau mencapai target 26 persen dari total SBN neto.
"Ini menunjukkan bahwa pengelolaan utang kita masih terus terjaga dengan baik dan hati-hati. Kita juga tahu bahwa higher for longer harus kita sikapi dengan pengelolaan yang lebih hati-hati," terangnya.
Menkeu menyadari bahwa tren pembiayaan utang harus dijaga pada level aman, mengingat situasi global saat ini cenderung dengan kenaikan suku bunga dan volatilitas tinggi.
"Issuance harus ditentukan secara situasi sehingga kita tidak terekspos dengan suku bunga yang melonjak sangat tinggi dan bahkan sering disertai volatilitas nilai tukar," lanjutnya.
"Sampai dengan akhir Oktober kita hanya merealisasi pembiayaan utang yang sebesar Rp203,6 triliun. Ini jauh lebih kecil dari tahun lalu di mana sampai Oktober 2022 kita melakukan pembiayaan utang mencapai Rp507,3 triliun," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers, Jumat (24/11/2023).
Baca Juga: 10 Negara dengan Utang Paling Sedikit di Dunia, Nomor 9 Sedang Perang
Bendahara Negara merincikan, pembiayaan utang sampai dengan Oktober 2023 itu terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 185,4 triliun atau mencapai target 26 persen dari total SBN neto.
"Ini menunjukkan bahwa pengelolaan utang kita masih terus terjaga dengan baik dan hati-hati. Kita juga tahu bahwa higher for longer harus kita sikapi dengan pengelolaan yang lebih hati-hati," terangnya.
Menkeu menyadari bahwa tren pembiayaan utang harus dijaga pada level aman, mengingat situasi global saat ini cenderung dengan kenaikan suku bunga dan volatilitas tinggi.
"Issuance harus ditentukan secara situasi sehingga kita tidak terekspos dengan suku bunga yang melonjak sangat tinggi dan bahkan sering disertai volatilitas nilai tukar," lanjutnya.
Lihat Juga :