Smart Fisheries Village Dongkrak Ekonomi Masyarakat Desa
Sabtu, 09 Desember 2023 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Eri Sobari, pemilik restoran di jalan raya Baregbeg Ciamis mengungkapkan, dirinya mengandalkan pasokan ikan Nila dari Kampung Nila Kawali. “Semua dipasok dari Kawali, tidak ada dari kawasan lain,”katanya. Dia pun berharap budidaya ikan Nila di daerah itu terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Peminatnya banyak dan setiap hari selalu habis,”ungkapnya.
Sekda Kabupaten Ciamis Tatang saat pertemuan lapangan SFV mengatakan, SFV Desa Kawali merupakan pilot project untuk mencapai kemandirian ekonomi masyarakat. Hadirnya SFV Kampung Nila Kawali mampu mendongkrak pendapatan warga masyarakat yang terlibat dalam sektor perikanan.
Pemkab Ciamis berharap agar Kampung Nila Kawali bisa menjadi contoh pengembangan ekonomi di desa-desa lainnya. Tatang pun menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), juga Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan ((BRSDMKP)) yang mendukung pengembangan SFV Kawali. “Atas dukungan dan bantuan yang diberikan, masyarakat mampu meningkatkan perekonomian di bidang perikanan,”tegasnya.
Pengembangan perikanan budidaya di Indonesia telah dilakukan melalui program-program inovatif yang dicanangkan oleh KKP. Diantaranya melalui minapolitan, industrialisasi, dan ekonomi biru (blue economy). Penerapan konsep pembangunan kelautan dan perikanan yang berbasis ekonomi biru merupakan langkah strategis dalam pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan. Konsepsi ekonomi biru bertujuan untuk menciptakan industri yang ramah lingkungan, sehingga bisa tercipta pengelolaan sumberdaya alam yang lestari dan berkelanjutan. Pendekatan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, terintegrasi, dan dapat meningkatkan sosial ekonomi masyarakat.
KKP menyebut, potensi perikanan budidaya di Indonesia sangat besar. Produksi perikanan budidaya di tahun 2022 mencapai 16,87 juta ton, lebih besar dari produksi perikanan tangkap yang mencapai 7,9 juta ton. Produksi perikanan budidaya hingga akhir tahun ini diproyeksikan bisa menembus 21,58 juta ton. KKP terus mendorong agar hilirisasi sektor perikanan budidaya dalam negeri bisa terus digenjot. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memperkuat ekspor produk perikanan budidaya Indonesia ke pasar global.
Mengakselerasi Ekonomi Nasional
Program Smart Fisheries Village (SFV) atau Desa Perikanan Cerdas merupakan Program KKP untuk menghadirkan suatu kawasan perikanan yang memiliki komoditas unggulan menjadi desa perikanan yang terintegrasi dengan mensinergikan riset dan teknologi dengan peningkatan sumber daya manusia. Tujuan dari progam SFV adalah sebagai strategi dalam mengatasi kesenjangan antara kawasan perkotaan dan pedesaan terutama dalam wilayah perikanan yang sering dinilai tidak sejahtera. Selain itu, SFV digunakan untuk mendukung implementasi program prioritas berbasis ekonomi biru.
Saat ini, program yang dirintis Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono sejak 2022 itu berada di 10 lokasi berbasis desa dan 12 lokasi berbasis UPT yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. SFV berbasis desa diantaranya di Desa Mangunegara, Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dengan komoditas utama Nila. Di Jawa Timur ada di Desa Sumberdodol, Panekan, Kabupaten Magetan, Sedangkan di Jawa Barat ada di Desa Kawali, Kabupaten Ciamis, dengan komoditas utama Nila dan Nilem.
Untuk mengakselerasi pengembangan SFV, BRSDMKP terus memperkuat kolaborasi dengan mitra kerja sama. "Intervensi teknologi yang tepat guna untuk pengembangan SFV menjadi salah satu poin penting yang akan terus kita perkuat," tegas Kepala BRSDMKP I Nyoman Radiarta.
SFV akan difokuskan pada tatanan sosial dan kelembagaan. Sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kualitas SDM di pedesaan. Diharapkan, SFV dapat tumbuh sebagai penggerak perekonomian desa. “Kita akan terus dorong agar dengan konsep pengembangan tersebut, SFV benar-benar menjadi pengungkit ekonomi dan kemandirian desa” ujar Nyoman.
Desa Perikanan Cerdas yang di implementasikan melalui SFV merupakan konsep pembangunan desa perikanan berbasis penerapan teknologi informasi komunikasi dan manajemen tepat guna berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa. SFV berbasis pada penerapan benih unggul, teknologi informasi komunikasi dan manajemen tepat guna, serta keberlanjutan yang diharapkan dapat memberikan pengungkit pembangunan desa ke depan. Konsep ini mengubah desa perikanan dari kesan termarjinalkan menjadi lebih maju dan tertata dengan baik.
Sekda Kabupaten Ciamis Tatang saat pertemuan lapangan SFV mengatakan, SFV Desa Kawali merupakan pilot project untuk mencapai kemandirian ekonomi masyarakat. Hadirnya SFV Kampung Nila Kawali mampu mendongkrak pendapatan warga masyarakat yang terlibat dalam sektor perikanan.
Pemkab Ciamis berharap agar Kampung Nila Kawali bisa menjadi contoh pengembangan ekonomi di desa-desa lainnya. Tatang pun menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), juga Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan ((BRSDMKP)) yang mendukung pengembangan SFV Kawali. “Atas dukungan dan bantuan yang diberikan, masyarakat mampu meningkatkan perekonomian di bidang perikanan,”tegasnya.
Pengembangan perikanan budidaya di Indonesia telah dilakukan melalui program-program inovatif yang dicanangkan oleh KKP. Diantaranya melalui minapolitan, industrialisasi, dan ekonomi biru (blue economy). Penerapan konsep pembangunan kelautan dan perikanan yang berbasis ekonomi biru merupakan langkah strategis dalam pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan. Konsepsi ekonomi biru bertujuan untuk menciptakan industri yang ramah lingkungan, sehingga bisa tercipta pengelolaan sumberdaya alam yang lestari dan berkelanjutan. Pendekatan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, terintegrasi, dan dapat meningkatkan sosial ekonomi masyarakat.
KKP menyebut, potensi perikanan budidaya di Indonesia sangat besar. Produksi perikanan budidaya di tahun 2022 mencapai 16,87 juta ton, lebih besar dari produksi perikanan tangkap yang mencapai 7,9 juta ton. Produksi perikanan budidaya hingga akhir tahun ini diproyeksikan bisa menembus 21,58 juta ton. KKP terus mendorong agar hilirisasi sektor perikanan budidaya dalam negeri bisa terus digenjot. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memperkuat ekspor produk perikanan budidaya Indonesia ke pasar global.
Mengakselerasi Ekonomi Nasional
Program Smart Fisheries Village (SFV) atau Desa Perikanan Cerdas merupakan Program KKP untuk menghadirkan suatu kawasan perikanan yang memiliki komoditas unggulan menjadi desa perikanan yang terintegrasi dengan mensinergikan riset dan teknologi dengan peningkatan sumber daya manusia. Tujuan dari progam SFV adalah sebagai strategi dalam mengatasi kesenjangan antara kawasan perkotaan dan pedesaan terutama dalam wilayah perikanan yang sering dinilai tidak sejahtera. Selain itu, SFV digunakan untuk mendukung implementasi program prioritas berbasis ekonomi biru.
Saat ini, program yang dirintis Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono sejak 2022 itu berada di 10 lokasi berbasis desa dan 12 lokasi berbasis UPT yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. SFV berbasis desa diantaranya di Desa Mangunegara, Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dengan komoditas utama Nila. Di Jawa Timur ada di Desa Sumberdodol, Panekan, Kabupaten Magetan, Sedangkan di Jawa Barat ada di Desa Kawali, Kabupaten Ciamis, dengan komoditas utama Nila dan Nilem.
Untuk mengakselerasi pengembangan SFV, BRSDMKP terus memperkuat kolaborasi dengan mitra kerja sama. "Intervensi teknologi yang tepat guna untuk pengembangan SFV menjadi salah satu poin penting yang akan terus kita perkuat," tegas Kepala BRSDMKP I Nyoman Radiarta.
SFV akan difokuskan pada tatanan sosial dan kelembagaan. Sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kualitas SDM di pedesaan. Diharapkan, SFV dapat tumbuh sebagai penggerak perekonomian desa. “Kita akan terus dorong agar dengan konsep pengembangan tersebut, SFV benar-benar menjadi pengungkit ekonomi dan kemandirian desa” ujar Nyoman.
Desa Perikanan Cerdas yang di implementasikan melalui SFV merupakan konsep pembangunan desa perikanan berbasis penerapan teknologi informasi komunikasi dan manajemen tepat guna berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa. SFV berbasis pada penerapan benih unggul, teknologi informasi komunikasi dan manajemen tepat guna, serta keberlanjutan yang diharapkan dapat memberikan pengungkit pembangunan desa ke depan. Konsep ini mengubah desa perikanan dari kesan termarjinalkan menjadi lebih maju dan tertata dengan baik.
Lihat Juga :