Sampai Kapan Harga Emas Terus Berkilau?

loading...
Sampai Kapan Harga Emas Terus Berkilau?
Foto: dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Tren kenaikan harga emas diproyeksi akan terus berlanjut seiring dengan belum stabilnya kondisi ekonomi di Tanah Air. Banyak yang menjadikannya peluang untuk mendulang untung. Namun, apakah investasi di logam mulia masih potensial di saat harganya telah menjulang tinggi?

Pandemi Covid-19 menyebabkan kondisi yang serba tidak pasti. Dampaknya, banyak masyarakat yang was-was saat memilih produk investasi. Mereka cenderung menghindari untuk berinvestasi pada aset yang berisiko tinggi seperti misalnya saham. Sebagian dari mereka, memilih mengalihkan aset ke produk investasi yang lebih aman salah satunya logam mulia.

Harga emas PT Aneka Tambang (Antam) berulang kali mencetak rekor tertingginya. Hingga saat ini harga logam mulia telah melesat naik 36,12% dari Rp775.000 per gram pada 3 Januari 2020 menjadi Rp1.055.000 pada 9 Agustus 2020. Sekedar informasi, harga emas tersebut berlaku di Kantor Antam, Pulogadung, Jakarta.

Memang banyak faktor yang mempengaruhi melesatnya harga emas. Menurut Chairman & President Asosiasi Perencana Keuangan IARFC (International Association of Register Financial Consultant) Indonesia Aidil Akbar Madji, naik turunnya harga emas dunia sangat bergantung banyak hal seperti cadangan emas dunia, permintaan emas dunia, kondisi ekonomi dunia, inflasi, kondisi politik dunia dan lainnya. (Baca: Dahsyat, Harga Emas Antam Catat Rekor Sejarah Tembus Rp1.048.000 Per Gram)



Sedangkan harga emas di Indonesia sangat bergantung pada harga emas dunia dan nilai tukar dolar ke rupiah. “Melihat emas di Indonesia itu seru banget. Kenapa? Karena harga emas belum tentu berbanding lurus dengan emas dunia. Itu sebabnya emas di Indonesia punya potensi yang oke untuk dipakai sebagai salah satu instrumen investasi,” kata Aidil saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta, kemarin.

Meski pun investasi emas termasuk aset safe heaven, namun tidak menjamin memberikan keuntungan besar. Selain kondisi ekonomi yang belum stabil, harga emas juga masih fluktuatif. Menurut Aidil, harga emas di Indonesia bisa turun seperti halnya jika berinvestasi pada instrumen lain. Dia menceritakan, pada periode 2004 hingga 2008 harga emas naik perlahan namun pasti. Kemudian harga emas sempat drop setelah krisis global di tahun 2008 dan naik kembali hingga 2012. (Baca juga: Jet Tempur Patungan Korsel-Indonesia Akan Gunakan Radar Array)

Lalu apakah saat ini waktu yang tepat untuk berinvestasi emas? Menurut perencana keuangan Safir Senduk, ketika harga emas mulai turun, saat itulah waktu yang pas untuk membeli emas. “Kita tidak pernah tahu kapan emas akan naik lagi atau turun lagi. Tapi biasanya tiap emas menempuh rekor harga baru, pasti dia akan terkoreksi turun lagi sedikit. Nah, beli lah saat terkoreksi” kata Safir Senduk saat dihubungi terpisah.



Kenaikan harga emas memang diperkirakan akan terus melejit hingga akhir tahun. Pengamat Ekonom dari Indef Bhima Yudhistira bahkan memprediksi, emas bisa menembus angka di atas Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per gram. Ada banyak faktor yang mempengaruhi meningkatnya harga emas.

Pertama, orang melakukan lindungi nilai kususnya menengah dan atas. Karena setiap kali krisis aset lindung nilai yang paling aman saat ini adalah emas. Lalu kedua, ada juga spekulan bahwa kalau keuntungan emas scara tahunan sudah lebih dari 40%. Artinya, emas merupakan aset yang mengalahkan return atau keuntungan dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 7%, lalu deposito 5%. Bahkan valas dolar tidak setinggi keuntungan SBN. “Jadi emas masih oke, apalagi saat ini properti sedang lesu jadi alternatif ya emas,” ungkap dia. (Lihat videonya: Gunung Sinabung Erupsi, Empat Kecamatan Tertutup Abu Vulkanik)

Ketiga, adanya trend dimana bank sentral berbagai negara mulai meningkatkan cadangan emasnya. Hal tersebut menurut dia dilakukan untuk mengantisipasi ketika terjadinya tekanan ekonomi seperti kenaikan inflasi. Terakhir, apabila dilihat dari sisi suplay tidak ditemukannya tambang emas yang cukup besar dalam 10 tahun terakhir. “Sehingga dari suplay itu sangat terbatas jadi tidak ada kenaikan produksi dari emas. Maka dari itu, faktor faktor tersebut yang membuat emas masih menjadi primadona,” pungkasnya. (Kunthi Fahmar Sandy)
(ysw)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top