Berkat Pejuang Sinyal Telkomsel, Daerah 3T Kini Bisa Nikmati Internet Ngebut
Selasa, 11 Agustus 2020 - 16:15 WIB
loading...
A
A
A
Agar tak penat, ia membiasakan menikmati diinginnya perbukitan Fulan Fehan, deru ombak Pantai Tanjung Bastian, hingga menikmati sedapnya cakalang bakar di Wini. Di daerah, ia berpikir kreatif. Misal membuat tutorial program yang diberi judul #kelasmalam alias Kami Ulas Supaya Kaka Paham yang akan digunakan untuk mengedukasi Sales Force (SF) dan Outlet terkait dengan produk atau program baru. Laki-laki kelahiran Sidoarjo itu menyebut, tak jarang bersama karyawan lain, ia berbagi pengalaman, agar bisa bekerja optimal di area penugasan.
Sementara Umar Hasan, Staff Radio, Transport And Power Operation (RTPO) Merauke mengisahkan, menjaga komunikasi di daerah terluar, di area yang masih banyak konflik seperti Papua, sungguh tak mudah. Kendala seperti akses ke pedalaman, perjalanan jauh, kesulitan komunikasi, hingga pemadaman listrik, menjadi makanan sehari-hari.
Pernah suatu ketika, dalam perjalanan ke site Oksibil di kabupatan Pegunungan Bintang, ada beberapa penjaga berseragam tapi tidak tampak seperti anggota keamanan yang berjaga di sebuah rumah belakang site. "Kami disamperi saat menjelang malam untuk tidak beraktifitas, sambil orang-orang tersebut memegang senjata . Tapi hari itu berlangsung aman," kenangnya.
Baca Juga: Juragan Telkomsel: Ada Berkah Pandemi buat Industri Telekomunikasi
Pengalaman pulang ke Merauke dari Oksibil juga tidak kalah menegangkan. Ia mengenang, di bulan Desember 2018, ketika itu banyak orang yang pulang ke kampung halaman dari Oksibil untuk Natal bersama keluarga. Pesawat semua penuh, hanya akan ada penerbangan ke Jayapura yang kosong seminggu setelah hari terakhir bekerja di Oksibil. Tiba-tiba, ia mendapat info akan ada pesawat perintis yang memuat barang ke Tanah Merah Bovendigoel, 30 menit lagi akan terbang. Tanpa ba-bi-bu dan pikiran bahwa mungkin akan jadi satu-satunya pesawat yang bisa bisa ditumpangi untuk keluar dari Oksibil, ia ke bandara untuk naik pesawat. Rupanya, tanpa kursi, maupun safety belt. Penerbangan 30 menit melalui pegunungan di kabupaten Pegunungan Bintang, hingga sampai di Tanah Merah dengan aman.
Sementara Umar Hasan, Staff Radio, Transport And Power Operation (RTPO) Merauke mengisahkan, menjaga komunikasi di daerah terluar, di area yang masih banyak konflik seperti Papua, sungguh tak mudah. Kendala seperti akses ke pedalaman, perjalanan jauh, kesulitan komunikasi, hingga pemadaman listrik, menjadi makanan sehari-hari.
Pernah suatu ketika, dalam perjalanan ke site Oksibil di kabupatan Pegunungan Bintang, ada beberapa penjaga berseragam tapi tidak tampak seperti anggota keamanan yang berjaga di sebuah rumah belakang site. "Kami disamperi saat menjelang malam untuk tidak beraktifitas, sambil orang-orang tersebut memegang senjata . Tapi hari itu berlangsung aman," kenangnya.
Baca Juga: Juragan Telkomsel: Ada Berkah Pandemi buat Industri Telekomunikasi
Pengalaman pulang ke Merauke dari Oksibil juga tidak kalah menegangkan. Ia mengenang, di bulan Desember 2018, ketika itu banyak orang yang pulang ke kampung halaman dari Oksibil untuk Natal bersama keluarga. Pesawat semua penuh, hanya akan ada penerbangan ke Jayapura yang kosong seminggu setelah hari terakhir bekerja di Oksibil. Tiba-tiba, ia mendapat info akan ada pesawat perintis yang memuat barang ke Tanah Merah Bovendigoel, 30 menit lagi akan terbang. Tanpa ba-bi-bu dan pikiran bahwa mungkin akan jadi satu-satunya pesawat yang bisa bisa ditumpangi untuk keluar dari Oksibil, ia ke bandara untuk naik pesawat. Rupanya, tanpa kursi, maupun safety belt. Penerbangan 30 menit melalui pegunungan di kabupaten Pegunungan Bintang, hingga sampai di Tanah Merah dengan aman.
Lihat Juga :