Adakah Dampak Resesi Jepang ke Ekonomi Indonesia?
Minggu, 25 Februari 2024 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan resesi di Jepang akan berdampak bagi Indonesia dari sisi kinerja ekspor lantaran salah satu mitra dagang utama.
Sejumlah barang-barang ekspor yang terdampak seperti batu bara itu tercatat bernilai USD8,8 miliar, kemudian disusul oleh komponen elektronik yang angkanya cukup besar USD1,5 miliar dan kemudian nikel USD1,2 miliar, perhiasan USD1,2 miliar dan barang-barang kayu dan turunannya USD1 miliar, karet yang digunakan untuk otomotif USD1 miliar, perikanan ekspor ke Jepang itu USD509 juta. "Barang-barang yang akan terdampak karena nilainya sangat besar," ungkapnya.
Baca Juga: Ekonomi Tumbang, Jepang Pesimistis Pemulihan Bakal Berjalan Cepat
Di sisi lain, industri Jepang akan mengalihkan lebih banyak relokasi pabrik-pabrik ke Indonesia dengan menambah capex atau belanja modal untuk perluasan pabrik elektronik atau otomotif. Dari sisi makro, pemerintah perlu melakukan monitoring atau uji ketahanan terhadap berbagai indikator makro ekonomi dan stabilitas di sektor keuangan. Selain itu, perlu memberikan insentif yang lebih besar lagi kepada para pelaku usaha yang bekerja sama dengan investasi Jepang terutama di sektor padat karya.
"Ini bisa menjadi momentum untuk relokasi industri dari Jepang ke Indonesia terutama di sektor elektronik mungkin di pengembangan mobil hybrid dan mobil listrik, industri baterai dan perangkat elektronik serta sektor IT," jelas Bhima.
Sejumlah barang-barang ekspor yang terdampak seperti batu bara itu tercatat bernilai USD8,8 miliar, kemudian disusul oleh komponen elektronik yang angkanya cukup besar USD1,5 miliar dan kemudian nikel USD1,2 miliar, perhiasan USD1,2 miliar dan barang-barang kayu dan turunannya USD1 miliar, karet yang digunakan untuk otomotif USD1 miliar, perikanan ekspor ke Jepang itu USD509 juta. "Barang-barang yang akan terdampak karena nilainya sangat besar," ungkapnya.
Baca Juga: Ekonomi Tumbang, Jepang Pesimistis Pemulihan Bakal Berjalan Cepat
Di sisi lain, industri Jepang akan mengalihkan lebih banyak relokasi pabrik-pabrik ke Indonesia dengan menambah capex atau belanja modal untuk perluasan pabrik elektronik atau otomotif. Dari sisi makro, pemerintah perlu melakukan monitoring atau uji ketahanan terhadap berbagai indikator makro ekonomi dan stabilitas di sektor keuangan. Selain itu, perlu memberikan insentif yang lebih besar lagi kepada para pelaku usaha yang bekerja sama dengan investasi Jepang terutama di sektor padat karya.
"Ini bisa menjadi momentum untuk relokasi industri dari Jepang ke Indonesia terutama di sektor elektronik mungkin di pengembangan mobil hybrid dan mobil listrik, industri baterai dan perangkat elektronik serta sektor IT," jelas Bhima.
(nng)
Lihat Juga :