Syngenta Pasarkan NK Pendekar Sakti, Jagung Bioteknologi Pertama di Indonesia
Selasa, 27 Februari 2024 - 18:54 WIB
loading...
A
A
A
Sejak tahun 2021 hingga kini, Kementerian Pertanian sudah melepas 8 varietas jagung hibrida bioteknologi yang telah melewati serangkaian sertifikasi ketahanan pangan, pakan, dan lingkungan sehingga dapat dipastikan keamanan produk tersebut. Jagung hibrida bioteknologi, kataYudi, memiliki potensi produksi berkisar 10,6-14,04 ton/ha. Varietas ini diharapkan mampu meningkatkan produksi dengan pencapaian potensi hasil panen, tanaman yang tahan terhadap hama dan adaptif terhadap iklim di Indonesia.
Dengan diluncurkannya produk jagung hibrida bioteknologi terbaru NK Pendekar Sakti tersebut, Yudi berharap akan memberikan dampak nyata bagi peningkatan produksi jagung sehingga mendukung tercapainya swasembada jagung melalui penggunaan benih jagung hibrida unggul oleh petani di Indonesia.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Kazim Hasnain mengatakan, pihaknya mendukung penuh upaya pemerintah menjamin kemandirian pangan, kesejahteraan perdesaan dan efisiensi tenaga kerja di bidang pertanian. Selain grand launching di Kabupaten Lamongan, pada tanggal 29 Februari 2024, Syngenta juga menggelar kegiatan serupa di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. "Kami senang dapat berperan dengan memperkenalkan benih jagung bioteknologi," tegas Kazim Hasnain.
Sementara itu, Seed Business Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat menjelaskan, Syngenta Indonesia sudah lebih dari 20 tahun menghasilkan benih berkualitas bagi petani di Indonesia. Syngenta, kata dia, juga terus melakukan inovasi berkelanjutan dalam memberikan solusi yang terbaik termasuk dalam penyediaan benih berkualitas.
Fauzi mengatakan, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 318 juta jiwa pada tahun 2045. Seiring dengan itu, kebutuhan pakan untuk menghasilkan protein hewani pun akan meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan sekitar 62 juta ton jagung per tahun. Produksi jagung ditargetkan mencapai 70 juta ton sehingga diharapkan akan ada surplus 8 juta ton untuk diekspor. Untuk mencapai jumlah tersebut, luas panen minimal rata-rata produksi jagung nasional harus mencapai 7-8 ton/ha. Pada saat itu nilai uang yang berputar di industri ini diperkirakan akan mencapai Rp350 triliun.
Dengan diluncurkannya produk jagung hibrida bioteknologi terbaru NK Pendekar Sakti tersebut, Yudi berharap akan memberikan dampak nyata bagi peningkatan produksi jagung sehingga mendukung tercapainya swasembada jagung melalui penggunaan benih jagung hibrida unggul oleh petani di Indonesia.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Kazim Hasnain mengatakan, pihaknya mendukung penuh upaya pemerintah menjamin kemandirian pangan, kesejahteraan perdesaan dan efisiensi tenaga kerja di bidang pertanian. Selain grand launching di Kabupaten Lamongan, pada tanggal 29 Februari 2024, Syngenta juga menggelar kegiatan serupa di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. "Kami senang dapat berperan dengan memperkenalkan benih jagung bioteknologi," tegas Kazim Hasnain.
Sementara itu, Seed Business Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat menjelaskan, Syngenta Indonesia sudah lebih dari 20 tahun menghasilkan benih berkualitas bagi petani di Indonesia. Syngenta, kata dia, juga terus melakukan inovasi berkelanjutan dalam memberikan solusi yang terbaik termasuk dalam penyediaan benih berkualitas.
Fauzi mengatakan, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 318 juta jiwa pada tahun 2045. Seiring dengan itu, kebutuhan pakan untuk menghasilkan protein hewani pun akan meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan sekitar 62 juta ton jagung per tahun. Produksi jagung ditargetkan mencapai 70 juta ton sehingga diharapkan akan ada surplus 8 juta ton untuk diekspor. Untuk mencapai jumlah tersebut, luas panen minimal rata-rata produksi jagung nasional harus mencapai 7-8 ton/ha. Pada saat itu nilai uang yang berputar di industri ini diperkirakan akan mencapai Rp350 triliun.
Lihat Juga :