Pasokan Melimpah, Konsumen Gas Nasional Harus Disiapkan
Rabu, 28 Februari 2024 - 19:37 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Macron Usul NATO Kerahkan Pasukan Keroyok Rusia, Ini Respons Kremlin
Kepala Satuan Pengembangan Teknologi dan Managemen Aset PT PLN Indonesia Power (PT PLN IP) Tarwaji Warsokusumo mengatakan, gas memegang peranan penting dalam pembangkitan. Namun, untuk meningkatkan pemanfaatan gas, PLN harus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU). "Indonesia harus menyediakan pembangkit-pembangkit yang mempunyai fleksibilitas dalam menangan beban minimum dan maksimum. Kita membutuhkan pembangkit listrik sejenis PLTG yang bisa merespons sekitar 88 MW per menit," tuturnya.
Di bagian lain, Deputi Keuangan dan Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Kurnia Chairi mengatakan bahwa harga gas bumi tertentu (HGBT) yang diberikan kepada tujuh sektor industri berdampak pada berkurangnya penerimaan negara. Dia mencatat, terjadi penurunan penerimaan negara akibat kebijakan HGBT sebesar USD6 per MMBTU, atau senilai lebih dari USD1 miliar.
Sementara itu, Chairman Indonesia Gas Sociaty (IGS) Aris Mulya juga membeberkan bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan gas dalam negeri. Tantangan-tantangan tersebut berasal dari sektor hulu, hilir, hingga regulasi. "Dari sektor hulu, kita tahu bahwa tingginya risiko pengembangan juga berdampak pada rendahnya investasi yang masuk. Jadi (butuh strategi) bagaimana kita bisa mengundang investor masuk dalam usaha industri hulu," ujarnya.
Kepala Satuan Pengembangan Teknologi dan Managemen Aset PT PLN Indonesia Power (PT PLN IP) Tarwaji Warsokusumo mengatakan, gas memegang peranan penting dalam pembangkitan. Namun, untuk meningkatkan pemanfaatan gas, PLN harus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU). "Indonesia harus menyediakan pembangkit-pembangkit yang mempunyai fleksibilitas dalam menangan beban minimum dan maksimum. Kita membutuhkan pembangkit listrik sejenis PLTG yang bisa merespons sekitar 88 MW per menit," tuturnya.
Di bagian lain, Deputi Keuangan dan Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Kurnia Chairi mengatakan bahwa harga gas bumi tertentu (HGBT) yang diberikan kepada tujuh sektor industri berdampak pada berkurangnya penerimaan negara. Dia mencatat, terjadi penurunan penerimaan negara akibat kebijakan HGBT sebesar USD6 per MMBTU, atau senilai lebih dari USD1 miliar.
Sementara itu, Chairman Indonesia Gas Sociaty (IGS) Aris Mulya juga membeberkan bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan gas dalam negeri. Tantangan-tantangan tersebut berasal dari sektor hulu, hilir, hingga regulasi. "Dari sektor hulu, kita tahu bahwa tingginya risiko pengembangan juga berdampak pada rendahnya investasi yang masuk. Jadi (butuh strategi) bagaimana kita bisa mengundang investor masuk dalam usaha industri hulu," ujarnya.
(fjo)
Lihat Juga :