Pandemi Covid-19 Pukul Ekonomi, Ini Arahan Banggar DPR kepada BI
Kamis, 30 April 2020 - 23:48 WIB
loading...
A
A
A
"Bank Indonesia juga perlu memberikan pinjaman likuiditas jangka pendek kepada perbankan untuk mempertebal likuiditasnya agar kemampuan perbankan sebagai transmisi keuangan tetap optimal dan sehat," katanya.
Selanjutnya, BI dinilai perlu untuk mencetak uang dengan jumlah Rp400-Rp600 triliun sebagai penopang dan opsi pembiayaan yang dibutuhkan oleh pemerintah.
"Mengingat dalam situasi global yang ekonominya slowing down, tidak mudah mencari sumber sumber pembiayaan, meskipun dengan menerbitkan global bond dengan bunga besar. Bank Indonesia dapat menawarkan yield sebesar 2%-2,5%, sedikit lebih rendah dari global bond yang dijual oleh pemerintah," tuturnya.
Dikatakan Said, kebijakan mencetak uang harus memperhitungkan biaya operasi moneter Bank Indonesia. Sehingga biaya tersebut tidak boleh dibebankan kepada Pemerintah. Oleh sebab itu, besaran yield tidak boleh lebih rendah dari biaya operasi moneter BI agar tidak menimbulkan kerugian bagi BI serta tidak menyebabkan modal BI lebih rendah 10% dari kewajiban moneternya.
"Kebijakan mencetak uang juga tetap harus memperhitungkan dampak inflasi yang ditimbulkan, sekaligus tekanan kurs terhadap rupiah," katanya.
Selanjutnya, BI dinilai perlu untuk mencetak uang dengan jumlah Rp400-Rp600 triliun sebagai penopang dan opsi pembiayaan yang dibutuhkan oleh pemerintah.
"Mengingat dalam situasi global yang ekonominya slowing down, tidak mudah mencari sumber sumber pembiayaan, meskipun dengan menerbitkan global bond dengan bunga besar. Bank Indonesia dapat menawarkan yield sebesar 2%-2,5%, sedikit lebih rendah dari global bond yang dijual oleh pemerintah," tuturnya.
Dikatakan Said, kebijakan mencetak uang harus memperhitungkan biaya operasi moneter Bank Indonesia. Sehingga biaya tersebut tidak boleh dibebankan kepada Pemerintah. Oleh sebab itu, besaran yield tidak boleh lebih rendah dari biaya operasi moneter BI agar tidak menimbulkan kerugian bagi BI serta tidak menyebabkan modal BI lebih rendah 10% dari kewajiban moneternya.
"Kebijakan mencetak uang juga tetap harus memperhitungkan dampak inflasi yang ditimbulkan, sekaligus tekanan kurs terhadap rupiah," katanya.
(bon)
Lihat Juga :