alexametrics

Revolusi Industri 4.0 Tingkatkan Keahlian SDM Indonesia

loading...
Revolusi Industri 4.0 Tingkatkan Keahlian SDM Indonesia
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Dunia memasuki revolusi industri generasi ke empat alias Industri 4.0. Istilah ini pertama kali diangkat dalam Hannover Fair 2011 di Jerman. Dalam Industri 4.0, tren otomasi dan penggunaan komputerisasi pabrik menjadi utama. Pemerintahan Jokowi sendiri telah membuat peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk meningkatkan kemampuan SDM nasional untuk memenuhi kebutuhan dunia industri.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, dengan Industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia di sektor manufaktur untuk meningkatkan keahlian yang sesuai dengan perkembangan teknologi terkini.

Untuk itu, diperlukan pelaksanaan program peningkatan keterampilan (up-skilling) atau pembaruan keterampilan (reskilling) para tenaga kerja berdasarkan kebutuhan dunia industri saat ini.

"Di dalam roadmap Making Indonesia 4.0, salah satu program prioritasnya peningkatan kualitas SDM. Sebab, talenta menjadi kunci atau faktor penting untuk kesuksesan implementasi industri 4.0," kata Airlangga di Jakarta, Sabtu (15/9/2018).



Merujuk arah peta jalan tersebut, Indonesia berencana merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada bidang Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics (STEAM). Selain itu, fokus meningkatkan kualitas unit pendidikan vokasi seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan politeknik.

"Kami meyakini generasi muda Indonesia merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan, sesuai dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia dalam 10 tahun ke depan," ujar Airlangga.

Oleh karena itu, pemerintah telah mengambil langkah strategis untuk mengumpulkan bakat-bakat SDM yang dibutuhkan dalam membangun ekonomi digital.

Misalnya, Kementerian Perindustrian meluncurkan program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match antara SMK dengan industri di berbagai daerah di Indonesia.

"Kemudian, kami sudah menjalin kerjasama dengan Swiss untuk pengembangan politeknik. Selain itu, menjalankan program silver expert dalam rangka melibatkan tenaga ahli dari sektor industri sebagai instruktur," tuturnya.

Bahkan, guna mendorong percepatan implementasi industri 4.0 di Indonesia, Kemenperin menggandeng lembaga riset terkemuka dari Jerman, Fraunhofer IPK.

"Kami akan melakukan kerjasama dalam upaya peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) di Indonesia," imbuhnya. Menperin pun menegaskan, upaya-upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dengan pelaku industri dan pihak akademisi.

"Dari sisi pemerintah, akan memastikan melalui kebijakan yang memadai seperti pemberian insentif untuk investasi teknologi penerapan industri 4.0," jelasnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak