Tetap Prospektif, Ini Tantangan yang Dihadapi Industri Mamin di 2024
Rabu, 13 Maret 2024 - 14:29 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Bagaimana Kondisi Gaza saat Bulan Ramadan? Dimulai dengan Kelaparan Parah
Faisal juga mengatakan bahwa kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) hingga 12% yang rencananya bakal diberlakukan pada 2025 menjadi sentimen negatif bagi pertumbuhan industri mamin. "Tantangannya dari biaya produksi yang berpotensi meningkat, Meningkat bukan hanya untuk bahan baku, tapi upah, pajak, dan lain-lain," tuturnya.
Guna mendukung industri mamin dalam negeri, Faisal berharap pemerintah menjaga ceruk pasar industri dalam negeri agar bisa dioptimalkan para pengusaha lokal. Menurut dia, kebijakan perdagangan di dalam negeri belum cukup berpihak kepada para pelaku industri lokal. Faisal mencontohkan kebijakan tarif impor bahan baku yang masih lebih mahal dibandingkan impor barang jadi.
"Tarif impor itu kerap kali tidak harmonis karena begitu impor bahan baku kena pajak tinggi, tapi begitu barang jadi justru nol atau bebas, jadi bagaimana industri bisa berkembang kalau begitu caranya. Sementara negara lain itu sebaliknya, bahan baku murah, sementara bahan jadinya itu kalau impor lebih tinggi harganya," pungkasnya.
Faisal juga mengatakan bahwa kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) hingga 12% yang rencananya bakal diberlakukan pada 2025 menjadi sentimen negatif bagi pertumbuhan industri mamin. "Tantangannya dari biaya produksi yang berpotensi meningkat, Meningkat bukan hanya untuk bahan baku, tapi upah, pajak, dan lain-lain," tuturnya.
Guna mendukung industri mamin dalam negeri, Faisal berharap pemerintah menjaga ceruk pasar industri dalam negeri agar bisa dioptimalkan para pengusaha lokal. Menurut dia, kebijakan perdagangan di dalam negeri belum cukup berpihak kepada para pelaku industri lokal. Faisal mencontohkan kebijakan tarif impor bahan baku yang masih lebih mahal dibandingkan impor barang jadi.
"Tarif impor itu kerap kali tidak harmonis karena begitu impor bahan baku kena pajak tinggi, tapi begitu barang jadi justru nol atau bebas, jadi bagaimana industri bisa berkembang kalau begitu caranya. Sementara negara lain itu sebaliknya, bahan baku murah, sementara bahan jadinya itu kalau impor lebih tinggi harganya," pungkasnya.
(fjo)
Lihat Juga :